Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Investor Properti di Hong Kong Incar Pabrik Tua

Pabrik kuno bekas tempat memproduksi jam tangan, mainan, dan pakaian menjadi arahan investor properti di Hong Kong. Properti industri menjadi real estat yang paling dicari dalam beberapa bulan terakhir setelah Covid-19 mendorong e-commerce yang pada gilirannya meningkatkan permintaan untuk logistik
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 11 Maret 2021  |  00:56 WIB
Ilustrasi kegiatan di pergudanagan atau properti logistik/Reuters - Jason Lee
Ilustrasi kegiatan di pergudanagan atau properti logistik/Reuters - Jason Lee

Bisnis.com, JAKARTA – Investor properti Hong Kong melihat bertaruh untuk menanamkan dana mereka pada bangunan pabrik tua untuk pengembalian yang lebih baik.

Transaksi properti industri melaju tahun ini, mencapai HK$2,7 miliar (US$348 juta) dalam 2 bulan pertama, menurut konsultan properti CBRE (Coldwell Banker Richard Ellis) Group Inc. Jumlah itu mewakili 73 persen dari jumlah tahun lalu.

Perbandingannya, penjualan properti perkantoran dan ritel lemah. Transaksi perkantoran mencapai HK$1,2 miliar sepanjang tahun ini, dan toko senilai HK$926 juta yang telah terjual, data CBRE menunjukkan.

Alih-alih membalik lantai kantor atau toko jalanan, investor kini mengalihkan fokus mereka ke bangunan industri yang pernah berfungsi sebagai pabrik yang memproduksi jam tangan, mainan, dan pakaian.

Properti industri menjadi real estat yang paling dicari dalam beberapa bulan terakhir, setelah Covid-19 mendorong e-commerce yang pada gilirannya meningkatkan permintaan untuk logistik dan ruang penyimpanan, kata Reeves Yan, kepala pasar modal di Hong Kong di CBRE.

“Ini terutama karena permintaan bisnis termasuk logistik, cold storage, dan pusat data sangat kuat selama pandemi. Sektor-sektor ini tumbuh melawan pasar,” kata Yan.

Sementara itu, konsultan properti Savills Plc juga mengemukakan bahwa bangunan industri menawarkan hasil sewa yang lebih tinggi, biasanya 3,5 persen dibandingkan dengan properti kantor atau ritel 2,5 persen. Perusahaan mengharapkan harga di sektor ini naik 5 persen pada 2021.

Hong Kong unik karena kurangnya pasokan properti logistik baru. Kota ini memiliki sekitar 1.800 bangunan industri pada 2018 dengan mayoritas dibangun pada 1970-an dan 1980-an, menurut Dewan Legislatif Kota.

Pemerintahan di wilayah khusus China itu memprioritaskan pembangunan perumahan untuk mengendalikan harga rumah. Dari 24 bidang tanah yang dilelang pemerintah tahun lalu, hanya dua yang untuk keperluan industri.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti hong kong

Sumber : Bloomberg

Editor : M. Syahran W. Lubis

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top