Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Setrum Hijau Energi Surya, Pemantik Benderang untuk Indonesia

Pembangkit listrik berbasis energi baru dan terbarukan menjadi salah satu kunci menerangi Indonesia 100 persen terutama menyasar daerah tertinggal, terdepan dan terluar.
Anggara Pernando
Anggara Pernando - Bisnis.com 28 Februari 2021  |  18:52 WIB
Petugas memeriksa panel surya untuk memastikan listrik yang dihasilkan maksimal -  Bisnis / David E. Issetiabudi
Petugas memeriksa panel surya untuk memastikan listrik yang dihasilkan maksimal - Bisnis / David E. Issetiabudi

Bisnis.com, JAKARTA - Deretan panel surya berjejer rapi di Pulau Sebira, Kepulauan Seribu. Membentang di atas tanah seluas 5.000 meter persegi, keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 400 kilowatt peak di pulau paling utara wilayah administratif Jakarta itu menjadi sumber energi baru bagi 165 pelanggan yang bermukim di sana. .

“Sejak peresmian lalu, pada siang hari listrik Pulau Sebira dipasok PLTS ,” ujar Syamsudin Manjago, operator Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Pulau Sebira saat dihubungi Minggu, (21/2/2021). 

Sejak diresmikan November 2020 lalu, PLTS Pulau Sebira telah menjadi harapan baru bagi masyarakat. Penggunaan BBM sebagai sumber energi utama untuk pembangkit listrik menurun drastis. 

Menurut Syamsuddin, jadwal kapal pengangkut bahan bakar minyak (BBM) untuk PLTD dari Suku Dinas Perindustrian dan Energi (DI) Kepulauan Seribu jadi semakin berkurang. Biasanya, kapal itu rutin berkunjung setiap 40 hari membawa 16.000 liter solar jenis dex kemasan 10 liter. Kini, kapal BBM baru datang di pulau terdepan dan terluar dari Ibu Kota itu setiap 2 bulan lebih.

Sebelum ada PLTS, 16 ton bahan bakar yang diangkut ke Sebira akan ditumpahkan ke tiga mulut genset yang dihidupkan secara bergantian. Ketiga genset itu memiliki kapasitas berbeda yaitu 125 kVA (2 unit) dan 250 kVA (1 unit). Namun, sekarang sejak ada PLTS, mesin-mesin itu padam total pada siang hari. Sedangkan malam hari, hanya mesin berkapasitas 250 kVa yang dinyalakan.

Kehadiran PLTS di pulau yang dulu dinamai pemerintah Hindia Belanda sebagai Noord Watcher atau penjaga utara itu membuat cahaya matahari yang berlimpah tak hilang percuma. Dengan menggunakan rangkaian sel fotovoltaik di atas lapangan seluas 0,5 hektare, cahaya ditangkap dan diubah menjadi listrik berdaya 0,4 megawatt peak (MWp). 

Syamsudin mengatakan, penggunaan tenaga surya membuat konsumsi BBM dapat ditekan hampir separuhnya. Listrik dari cahaya matahari ini juga meminimalisir keriuhan yang dulu meraung dari mesin genset yang haus solar. 

"Penghematan bahan bakar sekitar 40 persen. Tadinya, untuk BBM saja habis 16 ton (16.000 liter) untuk 40 hari. Sekarang sekitar 10 ton-an [untuk periode yang sama]," katanya lagi. 

Besarnya penghematan ini, membuat kantong pemda untuk belanja solar menurun drastis. Dengan harga solar Dex Rp9.500 per liter, maka per 40 hari harus dikeluarkan belanja Rp152 juta. Atau dengan kata lain Rp1,36 miliar per tahun. Biaya ini masih ditambah ongkos pengangkutan hingga asuransi perjalanan. 

Sedangkan, biaya yang ditarik ke 165 pelanggang yang ada di Pulau Sebira tak lebih dari Rp10 juta per bulan atau hanya Rp120 juta per tahun. "Kalau tidak di subsidi BBM-nya [oleh Pemda], ya ndak nutup," katanya. 

Artinya, keberadaan PLTS dari PLN telah menghemat hampir 6 ton BBM untuk setiap kali pengiriman atau setara Rp513 juta per tahun. Nilai penghematan ini menjadi semakin besar dengan memasukkan biaya angkut, asuransi hingga biaya lingkungan akibat polusi yang ditimbulkan. 

Menurut Syamsudin, PLTS sangat mudah dioperasikan. Tantangannya hanya pada perawatan dan penggantian komponen. Letak Sebira yang berada di tengah laut membuat tenaga kebersihan untuk panel sel surya sangat penting. Selain tiupan debu pasir dibawa angin laut juga ada dedaunan kering yang berterbangan. Saat yang sama tiang-tiang besi juga lebih cepat korosi. Meski begitu, menurutnya, mengoperasikan PLTS jauh lebih mudah dan menghasilkan energi bersih.

Bagi masyarakat Pulau Sebira, keberadaan PLTS menghadirkan harapan baru untuk membuka usaha baru. Mereka juga bisa menekan biaya harian dalam berusaha. H. Nurdin, salah seorang warga Sebira mengatakan sejak ada PLTS penggunaan peralatan elektronik menjadi lebih baik karena listrik selalu tersedia di kampungnya. Musim cuaca buruk yang menyebabkan penundaan pengiriman BBM yang berujung berkurangnya nyala listrik dapat dihindari.  

“Kini kita bisa menggunakan kulkas karena listrik hidup 24 jam. Jadi tidak perlu lagi membeli es untuk kebutuhan pengolahan ikan,” ujarnya. 

PLTS terus diperluas penggunaannya

Petugas memeriksa jaringan instalasi dalam panel surya./Bisnis - Himawan L Nugraha
 

General Manager PLN UID Jaya Doddy B. Pangaribuan mengatakan PLTS Sebira merupakan yang terbesar di DKI Jakarta. Pembangkit listrik ini sekaligus membuktikan komitmen PLN untuk memastikan kehadiran listrik bagi warga hingga wilayah terdepan dan terluar Indonesia. 

"Ini merupakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya terbesar hybrid di Provinsi DKI Jakarta, juga bisa digunakan untuk membackup PLTD. PLTS Pulau Sebira juga merupakan komitmen dalam pemanfaatan green energy dari energi baru dan energi terbarukan (EBT) untuk kelistrikan di Indonesia," katanya. 

ENERGI HIJAU

Beroperasinya PLTS di Pulau Sebira merupakan rangkaian komitmen PLN dalam menghadirkan energi listrik yang ramah. Ini juga menjadi upaya nyata untuk meningkatkan pasokan energi baru dan energi terbarukan (EBT) atau energi hijau dalam sistem listrik nasional. 

Tak hanya di Pulau Sebira, pengembangan energi baru dan terbarukan untuk kebutuhan listrik juga terus digenjot PLN di seluruh penjuru negeri. Pada 2020 lalu telah dirampungkan pembangunan tambahan EBT dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso dengan kapasitas 66 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) Merauke (3,5 MW), Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) Sion (12,1 MW) serta program PLTS Atap 13,4 MW. 

Dengan tambahan pasokan listrik dari pemanfaatan energi terbarukan, hingga akhir 2020, total kapasitas pembangkit EBT menjadi 10.467 MW. Pada 2021 ini, juga direncanakan tambahan 196 MW dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), 557,93 MW dari PLTA, 138,8 MW dari PLTS, juga 13 MW dari PLTBm. 

Pemerintah sendiri menargetkan PLN menjalankan bauran energi sebesar 23 persen dari EBT pada 2025. Secara keseluruhan pada 2025 target skema energi listrik nasional terdiri dari berbasis batu bara sebesar 54,6 persen, energi baru dan energi energi terbarukan sebesar 23 persen, serta gas bumi sebesar 22 persen. Sedangkan bahan bakar minyak yang menggerakkan PLTD akan terus ditekan hingga hanya tinggal 0,4 persen. 

Direktur Perencanaan Korporat PLN Muhammad Ikbal Nur mengatakan saat ini perseroan tengah melakukan program dedieselisasi atau mengganti seluruh pembangkit listrik tenaga diesel yang ada. Perseroan telah menyusun rencana kerja untuk merealisasikan itu sehingga pembangkit berbasis BBM yang ada akan dijadikan cadangan ataupun dipensiunkan. 

Sebagai gantinya, PLN akan membangun PLTS untuk memenuhi kebutuhan listrik yang selama ini berbasis solar. Program dedieselisasi ini diprioritaskan untuk pemenuhan listrik di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T). 

"Kami merencanakan membangun 600 MW PLTS untuk subtitusi PLTD-PLTD terutama di daerah remote yang biasanya konsumsi BBM cukup banyak. Kami ingin bantu pengurangan impor BBM yang dapat kami konversi ke pembangkit yang bersifat EBT," ujar Ikbal dalam acara Energy Outlook pada awal bulan  ini. 

Menurut Ikbal, tidak hanya membangun PLTS, pihaknya juga mempercepat penyelesaian pembangkit listrik berbasis EBT hingga co-firing dengan biomassa pada PLTU milik PLN. Co-firing  dijalankan dengan mencampur batu bara yang digunakan PLTU dengan limbah cangkang sawit yang banyak diproduksi di Tanah Air. 

"
Teknologi smart grid tidak terbatas hanya pada teknologi informasi dan komunikasi saja, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk otomasi sistem kelistrikan yang efisien di daerah 3T dengan memanfaatkan energi terbarukan setempat melalui konsep smart micro grid"

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif menyebutkan modernisasi infrastruktur ketenagalistrikan dan teknologi yang dilakukan PLN akan mempercepat rasio elektrifikasi nasional hingga 100 persen. 

Dalam webinar Implementasi Smart Grid, Arifin yang pernah menjadi Direktur Utama holding BUMN PT Pupuk Indonesia (persero) itu menyebutkan digitalisasi yang dilakukan PLN membawa pelanggan sekaligus menjadi produsen listrik melalui PLTS Atap dengan dukungan teknologi (smart grid). Teknologi ini akan mempercepat elektrifikasi di wilayah 3T. 

"Teknologi smart grid tidak terbatas hanya pada teknologi informasi dan komunikasi saja, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk otomasi sistem kelistrikan yang efisien di daerah 3T dengan memanfaatkan energi terbarukan setempat melalui konsep smart micro grid," ujar Arifin, Jumat (26/2/2021).  

Dengan jalan ini, pemenuhan listrik andal untuk warga akan semakin baik. Selain itu, penggunaan energi baru dan terbarukan menjadi wujud nyata upaya pemerintah menurunkan emisi gas rumah kaca yang sudah menjadi komitmen Indonesia di mata dunia.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

PLN plts ebt
Editor : Anggara Pernando

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top