Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gara-Gara Ini, Sektor Perhotelan dan Restoran di Ujung Tanduk!

PHRI menyebut sektor perhotelan dan restoran berisiko mengalami kolaps seiring dengan berakhirnya relaksasi utang perbankan dan musim low season tahunan.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 24 Februari 2021  |  17:03 WIB
Resepsionis hotel sedang melayani calon konsumen. - Ilustrasi/Bisnis/Amri Nur Rahmat
Resepsionis hotel sedang melayani calon konsumen. - Ilustrasi/Bisnis/Amri Nur Rahmat

Bisnis.com, JAKARTA - Sektor perhotelan dan restoran makin di ujung tanduk. Sektor tersebut terancam kolaps seiring dengan berakhirnya seluruh relaksasi utang perbankan pada Maret 2021 yang disusul dengan periode low season tahunan yang rutin datang pada masa Ramadan.

Menurut Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran, potensi kolaps pelaku industri hotel dan restoran cukup besar jika melihat beberapa indikator negatif tersebut di atas.

"Pasalnya, setelah hampir setahun penuh menderita akibat pandemi Covid-19, pelaku usaha hotel dan restoran masih berkewajiban membayar utang kepada perbankan di tengah kondisi kahar yang menimpa. Tidak hanya itu, periode ramadan yang tahun ini jatuh pada April menjadi pukulan pelengkap," ujar Maulana kepada Bisnis.com, Rabu (24/2/2021).

Perlu diketahui, ramadan merupakan low season bagi sektor perhotelan dan restoran. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka hunian hotel pada periode peak season tahun lalu berada di level 19–40 persen. Dengan kata lain, menyentuh level terendah dalam sejarah.

Maulana menjelaskan, periode peak season di sektor pariwisata terjadi 2 kali dalam satu tahun, yakni pada masa libur sekolah serta liburan akhir dan awal tahun. Dalam kondisi normal selama 10 tahun terakhir, level tertinggi hunian hotel di Indonesia bisa mencapai 58 persen pada bulan-bulan peak season.

Adapun, terdapat sejumlah faktor yang dapat memperburuk situasi industri hotel dan restoran tahun ini. Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) diprediksi memperburuk kondisi perhotelan dan restoran.

Kemudian, lanjut Maulana, adanya kewajiban testing dengan masa 2x 24 jam yang menambah biaya bertransportasi menggunakan maskapai penerbangan akan membuat orang menghindari transportasi udara.

"Kalau transportasi udaranya kolaps, otomatis hotel dan restoran di luar Pulau Jawa akan bermasalah. Pertumbuhan hotel dan restoran selama pandemi hanya terjadi di Pulau Jawa. Di luar itu tumbuhnya kecil, apalagi Bali. Jika tidak segera ditanggulangi, akan terjadi mirorring kondisi tahun lalu," ujarnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hotel phri
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top