Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

NAC Ngotot Tak Terima Pengembalian Pesawat, Alvin Lie: Itu Wajar

Tak hanya maskapai penerbangan, lessor juga mengalami kesulitan karena banyak maskapai yang tak mampu melanjutkan pembayaran bahkan mencicil hutangnya.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 16 Februari 2021  |  17:13 WIB
Ilustrasi pesawat Garuda Indonesia
Ilustrasi pesawat Garuda Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA – Permintaan perusahaan penyewaan pesawat dari Kanada, Nordic Aviation Capital agar PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) memenuhi perjanjian kontraknya dinilai merupakan tindakan wajar karena bisnis yang juga menderita akibat Covid-19.

Pemerhati penerbangan yang juga anggota Ombudsman Alvin Lie menilai pihak lessor akan berusaha mati-matian agar maskapai pelat merah tersebut tak mengembalikan pesawatnya. Tak hanya maskapai penerbangan, lessor juga mengalami kesulitan karena banyak maskapai yang tak mampu melanjutkan pembayaran bahkan mencicil hutangnya.

Menurut Alvin, semestinya NAC mampu mempertimbangkan untuk bernegosiasi dan membantu Garuda menekan kerugian operasi supaya masih bisa mengoptimalkan unit Bombardier CRJ-1000 tersebut.

Nah tentunya mereka berharap kontrak dengan Garuda tetap berjalan. Tapi jika NAC membantu Garuda ya dapat dipertimbangkan supaya ketika mengoperasikannya Garuda tidak rugi ya patut dipertimbangkan yang penting Garuda tidak rugi. Kalau tidak rugi kan nggak mungkin dikembalikan,” ujarnya, Selasa (16/2/2021).

Sebelumnya, Direktur NAC Eavan Gannon menjelaskan pada tahun lalu, mengingat pandemi global dan kondisi pasar, pihaknya telah melakukan diskusi ekstensif dengan maskapai penerbangan untuk membantu meringankan posisi kas mereka selama krisis. 

NAC, lanjutnya, telah melanjutkan diskusi ini tetapi belum ada kesepakatan sampai saat ini dan tidak ada pemberitahuan penghentian yang diterima.

“NAC telah melanjutkan diskusi ini tetapi belum ada kesepakatan sampai saat ini dan tidak ada pemberitahuan penghentian yang diterima. Perjanjian sewa dengan demikian tetap berlaku penuh dan NAC mengharapkan Garuda untuk terus memenuhi komitmen kontraktualnya,” ujarnya melalui keterangan resmi dikutip.

Dia menuturkan Garuda memutuskan untuk membeli langsung 6 pesawat CRJ-1000 dari Bombardier yang semuanya dioperasikan oleh maskapai pelat merah tersebut sejak 2012. Pesawat ini dipilih oleh Garuda sebelum ada perjanjian dengan NAC.

Selanjutnya Garuda memilih NAC untuk menyediakan 12 pesawat CRJ-1000 lagi berdasarkan perjanjian sewa yang berakhir pada tahun 2027. 

Eanon juga menegaskan kendati perusahaan bersimpati terhadap kesulitan komersial Garuda, NAC yakin akan keputusan dan posisinya saat ini sehingga dia tetap bertekad untuk melindungi kepentingan komersialnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Garuda Indonesia bombardier Covid-19
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top