Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Cuaca Ekstrem dan Krisis Energi di AS Kerek Harga Minyak Brent

Dilansir Bloomberg, Selasa (16/2/2021), minyak Brent di London naik menjadi US$64 per barel setelah terkerek 1,4 persen kemarin. Cuaca beku telah melumpuhkan sistem energi di Texas, AS menyusul pemadaman listrik yang menyebar ke berbagai negara bagian.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 16 Februari 2021  |  13:13 WIB
Ilustrasi. Kapal tanker pengangkut minyak. - Bloomberg
Ilustrasi. Kapal tanker pengangkut minyak. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Krisis energi yang dipicu cuaca dingin ekstrem di Amerika Serikat mengerek tipis minyak Brent lebih tinggi di Asia setelah ditutup pada level tertinggi dalam hampir 13 bulan.

Dilansir Bloomberg, Selasa (16/2/2021), minyak Brent di London naik menjadi US$ 64 per barel setelah terkerek 1,4 persen kemarin. Cuaca beku telah melumpuhkan sistem energi di Texas, AS menyusul pemadaman listrik yang menyebar ke berbagai negara bagian.

Lebih dari satu juta barel produksi minyak per hari telah dihentikan dan jaringan pipa telah menyatakan keadaan luar biasa. Energy Aspects Ltd. memperkirakan sekitar 3 juta barel per hari kapasitas pemrosesan bisa terhenti.

Kombinasi suhu dingin dan penutupan kilang telah memicu perebutan bahan bakar dan kemungkinan akan menyebabkan harga Amerika yang lebih tinggi untuk segala hal mulai dari bensin hingga propana. Krisis AS merupakan yang terbaru dari serangkaian peristiwa karena cuaca dingin di belahan bumi utara yang telah meningkatkan konsumsi minyak tahun ini.

Di Eropa, pasar minyak Laut Utara, yang menjadi patokan harga lebih dari dua pertiga minyak mentah dunia, juga mengalami lonjakan aktivitas bullish terbesar dalam beberapa tahun.

Sementara itu, ada kemungkinan pasokan minyak mentah Norwegia akan terganggu setelah pembicaraan untuk mencegah pemogokan kilang melewati tenggat waktu.

Pemangkasan produksi sepihak Arab Saudi juga telah membantu patokan minyak mentah global reli lebih dari 20 persen tahun ini karena stok dunia yang membengkak ditarik turun bahkan ketika virus kmcorona yang terus-menerus menyebabkan lebih banyak penguncian.

"Pasokan global semakin ketat dengan cuaca dingin AS untuk saat ini, dan ada juga ekspektasi permintaan akan meningkat," kata Will Sungchil Yun, analis komoditas senior di VI Investment Corp. di Seoul.

Dia melanjutkan, minyak West Texas Intermediate (WTI) dengan harga US$ 65 per barel tampaknya tidak mustahil lagi. Namun, tetap ada kekhawatiran atas keberlanjutan reli minyak mentah, dengan 14-day Relative Strength baik Brent maupun WTI tetap jauh di atas 70 sebagai tanda bahwa harga mungkin akan turun.

Di China, importir minyak terbesar dunia, tingkat perjalanan selama periode Tahun Baru Imlek jauh di bawah level normal di tengah kebangkitan Covid-19 di beberapa bagian negara.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak amerika serikat cuaca ekstrem
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top