Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BUMN Manufaktur Ini Ngaku Belum Bisa Buat Seismometer Sendiri

Len Industri telah berhasil membangun 411 stasiun miniregional monitoring gempa bumi BMKG. Namun, perusahaan peralatan elektronik industri milik pemerintah Indonesia berpusat di Bandung ini mengaku belum memiliki produk sendiri untuk seismometer.
Fatkhul Maskur
Fatkhul Maskur - Bisnis.com 09 Januari 2021  |  20:50 WIB
Seismometer adalah alat atau sensor getaran, yang biasanya dipergunakan untuk mendeteksi gempa bumi atau getaran pada permukaan tanah.   - seis/insight.eu
Seismometer adalah alat atau sensor getaran, yang biasanya dipergunakan untuk mendeteksi gempa bumi atau getaran pada permukaan tanah. - seis/insight.eu

Bisnis.com, JAKARTA - Len Industri telah berhasil membangun 411 stasiun miniregional monitoring gempa bumi BMKG. Namun, perusahaan peralatan elektronik industri milik pemerintah Indonesia berpusat di Bandung ini mengaku belum memiliki produk sendiri untuk seismometer.

Manajer Rekayasa Sistem Unit Bisnis ICT & Navigasi PT Len Industri Yudhistira Utomo mengatakan bahwa perusahaan memiliki mimpi besar menjadi penyedia produk dan teknologi infrastruktur sistem sensor peringatan dini kebencanaan. Saat ini Len Industri memiliki peran sebagai integrator sistem maupun pemeliharaan sistem tersebut.

Selain di sistem power, belum ada produk sendiri milik Len Industri yang diintegrasikan. Hingga saat ini, prinsipal produk seismohardware sebagian besar berasal dari Amerika sebagai partner selama ini.

“Len membeli barang dari prinsipal. Transfer knowledge saat ini masih sebatas penggunaan dan konfigurasi, tapi tidak tertutup kemungkinan ke depan akan ada ToT [transfer of technology],” katanya seperti dikutip dari siaran pers Kementerian BUMN, Sabtu (9/1/2021).

Sebagai integrator, Len Industri memiliiki tiga tanggung jawab utama, yakni membangun sistem, menjamin ketersediaan data dan kualitas data. Perusahaan harus dapat menjamin availability data di atas 90 persen atau bahkan 99 persen.

“Penempatan seismometer itu tidak bisa asal, kita harus mendapatkan kualitas data yang baik. Suhu dan kelembapan ruangan juga berpengaruh karena sangat sensitif,” ujarnya.

Sejak dua tahun terakhir, Len Industri telah dipercaya BMKG untuk membangun 233 stasiun monitoring gempa bumi yang tersebar di seluruh Indonesia. Hingga kini, BMKG memiliki 411 unit seismograf di seluruh Indonesia.

Pada 2020, Len Industri telah menuntaskan pembangunan stasiun di 39 lokasi, yang sebagian besar di wilayah timur Indonesia. Dengan penambahan ini, sensor-sensor seismik di Tanah Air menjadi lebih rapat.

“Data yang diterima semakin banyak sehingga akurasi dan kecepatan informasi penentuan gempa dapat meningkat. Saat ini sudah di kisaran 4 hingga 5 menit untuk informasi peringatan gempa (sejak kejadian),” katanya.

Meski konfigurasi dan pendekatan pengerjaannya sedikit berbeda dengan stasiun yang dipasang pada tahun sebelumnya, kinerja alat baru ini lebih andal. Stasiun baru juga tetap menggunakan PLTS (pembangkit listrik tenaga surya) produksi Len Industri sebagai sumber catu dayanya.

“Yang membedakan dengan 2019, stasiun baru menggunakan sistem posthole seismometer, yang mana seismometer akan dimasukan ke dalam lubang. Hal ini untuk mengurangi environment noise terhadap data sehingga dapat melakukan improvement kualitas data,” ujarnya.

Indonesia tercatat sebagai salah satu negara yang paling banyak mengalami gempa bumi. Ini karena Indonesia terletak di atas tiga lempeng yakni Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Indo-Australia. Untuk itulah betapa pentingnya pemerintah melalui BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) terus meningkatkan kemampuannya memperoleh informasi yang akurat mengenai parameter mekanisme sumber terjadinya gempa bumi.

BMKG memiliki program peringatan dini tsunami yang dikenal dengan nama Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS). Sistem InaTEWS menggabungkan antara data seismik, data GPS, data Buoy, dan data Tide Gauge. Pada sistem InaTEWS, data seismik menjadi ujung tombak observasi, karena dapat mendeteksi potensi tsunami dalam waktu 4 – 5 menit setelah kejadian gempa bumi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gempa bumi len industri
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top