Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penataan Angkutan Umum di Daerah Perlu Komitmen Politik

Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menilai komitmen politik kepala daerah sangat diperlukan dalam hal menata transportasi umum.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 04 Januari 2021  |  17:35 WIB
Penataan Angkutan Umum di Daerah Perlu Komitmen Politik
Penumpang antre untuk menaiki bus listrik Transjakarta di Terminal Blok M, Jakarta, Senin (13/7/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Jawa Tengah memiliki bus seperti Transjakarta dengan 5 koridor dan segera akan dibangun koridor keenam. Langkah ini jadi inovasi pemanfaatan angkutan umum guna menekan penggunaan kendaraan pribadi yang perlu didukung kebijakan politik pemimpin daerah.

Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat Djoko Setijowarno menuturkan selain Provinsi DKI Jakarta yang memiliki APBD di atas Rp75 triliun, sehingga dapat memberikan subsidi TransJakarta, LRT Jakarta dan MRT.

Provinsi Jawa Tengah lanjutnya, juga dapat menjadi contoh bagi provinsi lain yang tidak memiliki APBD sebesar DKI Jakarta, tetapi memiliki komitmen politik yang kuat dalam menata transportasi umum.

"Hal seperti ini dapat diikuti provinsi lainnya di Indonesia. Komitmen politik kepala daerah sangat diperlukan dalam hal menata transportasi umum antar kota antar kabupaten atau wilayah aglomerasi," ujarnya, Senin (4/1/2021).

Dia bercerita saat ini sudah ada 5 koridor yang dilayani oleh Trans Jateng ini, dan rencana pertengahan 2021 akan dikembangkan koridor ke-enam, yakni rute Semarang-Gubuk (Kab. Grobogan). Anggaran yang dikeluarkan menggunakan APBD Jateng 2021 sebesar Rp96 miliar, termasuk rencana operasional rute Semarang – Gubug (Kab. Grobogan) di pertengahan 2021.

Pengembangan rute layanan transportasi umum Trans Jateng hingga akhir tahun 2020 sudah mencapai lima koridor. Rute pertama dikembangkan adalah Semarang (Stasiun Tawang) – Terminal Bawen (Kab. Semarang) pada 17 Juli 2017.

Pada Agustus 2018 rute Purwokerto-Purbalingga (30 kilometer). Kemudian, pada Oktober 2019 membuka rute Terminal Bahurekso (Kab. Kendal) - Terminal Mangkang (Semarang).

September 2020, dikembangkan dua rute Trans Jateng. Untuk mendukung mengembangkan KSPN Borobudur, dikembangkan koridor Stasiun Kutoarjo (Kab. Kebumen) – Purworejo – Terminal Borobudur (Kab. Magelang). Selanjutnya, mendukung Batik Solo Trans (BST) di Kota Surakarta, dibuka rute Terminal Tirtonadi (Surakarta) – Terminal Sumberlawang (Kab. Sragen).

Kedua koridor baru ini sudah menggunakan bus dengan low entry. Tidak memerlukan halte tinggi lagi, cukup menyediakan bus stop untuk tempat perhentiannya.

Operasional Bus Trans Jateng mulai jam 05.00 hingga jam 21.00. Tarif yang dikenakan bagi pelajar, mahasiswa dan buruh Rp2.000 dan umum Rp4.000. Jumlah penumpang selama tiga tahun beroperasi sudah mencapai 8,8 juta penumpang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

transportasi
Editor : Rio Sandy Pradana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top