Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kemenperin dan Kementan Dorong Bahan Baku Industri Agro

Kementerian Perindustrian meneken nota kesepahaman dengan Kementerian Pertanian untuk upaya mengoptimalkan hasil pertanian dalam negeri agar memiliki nilai tambah, serta mampu menjadi penopang industri nasional.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 11 Desember 2020  |  17:20 WIB
Pekerja menyortir biji kopi sebagai komoditas ekspor ke Jepang, Kanada, Hongkong, dan Italia di Pabrik Kopi Banaran milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX, Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Kamis (27/7). - ANTARA/Aditya Pradana Putra
Pekerja menyortir biji kopi sebagai komoditas ekspor ke Jepang, Kanada, Hongkong, dan Italia di Pabrik Kopi Banaran milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX, Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Kamis (27/7). - ANTARA/Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perindustrian meneken nota kesepahaman dengan Kementerian Pertanian untuk mengoptimalkan hasil pertanian dalam negeri agar memiliki nilai tambah, serta mampu menjadi penopang industri nasional.

Direktur Jenderal Agro Kemenperin Abdul Rochim mengatakan nota kesepahaman itu meliputi peningkatan produksi, mutu, nilai tambah, daya saing produk pertanian sebagai bahan baku industri, peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM), jejaring kemitraan usaha pertanian dengan industri, pertukaran data dan informasi, sinergi regulasi dan standar, dan pembangunan agribisnis dan agroindustri.

“Industri agro merupakan subsektor industri pengolahan nonmigas yang mempunyai peran penting dan strategis dalam perekonomian nasional, sehingga kinerjanya harus dioptimalkan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (11/12/2020).

Rochim menyampaikan industri agro mempunyai peranan yang penting dalam nilai pengapalan industri pengolahan nonmigas. Rochim mendata industri agro berkontribusi sebesar 35,36 persen terhadap ekspor sektor manufaktur atau sebesar US$29,27 miliar.

Sementara itu, impor industri agro berkontribusi sekitar 13 persen dari total sektor manufaktur atau senilai US$9,87 miliar. Adapun, 70 persen dari impor tersebut merupakan impor bahan baku dan bahan penolong.

Rochim berujar tingginya ketergantungan bahan baku impor pabrikan lokal disebabkan oleh minimnya bahan baku di dalam negeri. Rochim mencontohkan beberapa bahan baku yang ketersediaan lokalnya kurang, seperti susu yang baru ada 29 persen dan gula yang baru 45,83 persen.

“Bisa dilihat, masih banyak bahan baku dan bahan penolong industri agro yang diimpor. Sehingga, harapannya kerja sama strategis antara Kemenperin dengan Kementan mampu meningkatkan pemenuhan bahan baku industri," ucapnya.

Di samping itu, Rochim mengusulkan untuk mendekatkan sektor pertanian dan sektor industri agro kepada teknologi Industri 4.0. Menurutnya, hal tersebut dapa meningkatkan efisiensi value chain dengan membangun jaringan cold-chain yang lebih baik.

Selain itu, Rochim menilai adoosi teknologi industri 4.0 dapat meningkatkan produksi industri agro modern dengan inovasi produk yang didukung insentif super deduction tax untuk research and development (R&D).

“Kami juga terus berupaya memperkuat daya saing produk industri agro dari segi kualitas, harga, dan kemampuan delivery untuk memenuhi pasar ASEAN dan global, meningkatkan,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertanian agro industri
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top