Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Okupansi RS Melandai, Serapan Obat Non Covid-19 Indofarma Turun

Saat ini kegiatan produksi relatif sudah lancar yang artinya tidak ada kendala bahan baku seperti di masa awal pandemi.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 03 Desember 2020  |  23:17 WIB
Karyawan memeriksa obat yang diproduksi PT Indofarma Tbk. di Cibitung Bekasi, Jawa Barat. - .Bisnis/Endang Muchtar
Karyawan memeriksa obat yang diproduksi PT Indofarma Tbk. di Cibitung Bekasi, Jawa Barat. - .Bisnis/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA — PT Indofarma Tbk. mengakui penurunan tingkat keterisian atau Bed Occupancy Rate (BOR) rumah sakit yang melandai di level 60-75 persen membuat penyerapan obat menurun.

Direktur Utama PT Indofarma Tbk. Arief Pramuhanto mengatakan saat ini hanya produk obat untuk penanganan Covid-19 yang meningkat yakni Remdesivir, Oseltamivir, dan Antibiotik.

"Untuk produk farmasi selain penanganan Covid-19 turun semua, sekarang masyarakat semakin takut ke RS. Namun, secara penjualan dengan peningkatan obat produk Covid-19 saat ini cukup mengimbangi," katanya kepada Bisnis, Kamis (3/12/2020).

Arief pun memastikan pihaknya akan siap sesuai regulasi untuk memproduksi berbagai obat baru jika diperlukan untuk penanganan Covid-19. Menurutnya, saat ini kegiatan produksi relatif sudah lancar yang artinya tidak ada kendala bahan baku seperti di masa awal pandemi.

"Jadi prinsipnya kami siap jika diperlukan tambahan produksi atau yang lainnya. Kondisi kinerja obat memang relatif berimbang saat ini beda dengan alkes [alat kesehatan] meningkat pesat," ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan laporan keuangan per September 2020, emiten pelat merah tersebut mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp749,25 miliar, naik 28,4 persen secara tahunan. Rugi bersih perseroan tercatat mengecil dari periode sebelumnya Rp34,84 miliar menjadi Rp18,88 miliar.

Kendati mengalami kerugian lain-lain sebesar Rp5,4 miliar, tetapi perseroan berhasil menekan beban penjualan 4,12 persen menjadi Rp95,94 miliar, serta beban umum dan administrasi sebesar 8,62 persen menjadi Rp75,24 miliar.

Berdasarkan segmentasi produk, pendapatan perseroan dengan sandi saham INAF memang masih didominasi oleh penjualan obat ethical di pasar lokal yang mendominasi sekitar 58,82 persen dari total pendapatan dalam sembilan bulan pertama tahun ini. Segmen itu turun tipis atau sebesar 5,14 persen secara tahunan.

Adapun, segmen penjualan alat kesehatan, diagnostik dan lainnya di dalam negeri meningkat pesat 182,04 persen secara tahunan menjadi Rp286,75 miliar. Kenaikan penjualan juga dibarengi segmen pendapatan dari produk obat ethical yang dijual ke pasar luar negeri yang meroket 385,84 persen menjadi Rp4,42 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rumah sakit pt indofarma (persero) tbk Covid-19
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top