Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

OECD Pangkas Pertumbuhan Global 2021 Jadi 4,2 Persen

Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memangkas proyeksi pertumbuhan tahun depan menjadi 4,2 persen dari sebelumnya 5 persen pada September.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 02 Desember 2020  |  14:26 WIB
Bendera OECD di kantor pusat OECD di Paris, Prancis - OECD
Bendera OECD di kantor pusat OECD di Paris, Prancis - OECD

Bisnis.com, JAKARTA - Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memangkas proyeksi pertumbuhan tahun depan menjadi 4,2 persen dari sebelumnya 5 persen pada September.

Hal ini dipicu kebangkitan pandemi virus corona yang telah secara dramatis melemahkan pemulihan global.OECD memperigatkan bahwa dampaknya bisa menjadi jauh lebih buruk jika pemerintah menarik dukungan terlalu cepat atau gagal memberikan vaksin yang efektif.

Ada penurunan yang sangat besar untuk kawasan euro dan Inggris, dengan proyeksi dipangkas menjadi 4,2 persen dari 7,6 persen. Proyeksi Amerika Serikat juga diturunkan menjadi 3,2 persen dari 4 persen.

"Kebijakan masih banyak yang harus dilakukan. Jika kesehatan masyarakat atau kebijakan fiskal goyah maka kita akan melihat hilangnya kepercayaan dan pandangan yang jauh lebih menyedihkan," kata Kepala Ekonom OECD Laurence Boone, dilansir Bloomberg, Rabu (2/12/2020).

Imbauan agar upaya pemerintah tak surut menyoroti kerapuhan ekonomi dunia karena guncangan tajam pada bulan-bulan awal pandemi yang menyebabkan kemerosotan berkepanjangan di banyak kawasan. Meski terdapat optimisme mengenai pengembangan vaksin baru-baru ini, bankir sentral cenderung bersikap hati-hati terhadap ketidakpastian yang masih menyelimuti ekonomi dunia.

Upaya meredam penyebaran virus adalah salah satu faktor penentu dalam lintasan pemulihan. Ini akan memungkinkan pemerintah untuk akhirnya mengakhiri tindakan penguncian, bisnis beroperasi lagi dan orang-orang kembali bekerja. Dengan begitu banyak harapan yang disematkan pada hal itu, menurut OECD, penundaan dapat memiliki dampak yang menghancurkan.

"Dampak ekonomi bisa sangat parah, yang pada gilirannya meningkatkan risiko gejolak keuangan dari negara dan perusahaan yang rapuh, dengan pengaruh global," kata Boone.

Ada juga risiko tinggi divergensi di antara berbagai kawasan yang dapat berkembang menjadi perubahan jangka panjang dalam ekonomi dunia. Eropa dan Amerika Utara akan memberikan kontribusi pertumbuhan yang lebih sedikit pada 2021, sementara China akan menyumbang lebih dari sepertiga ekspansi global.

Pemerintah harus terus mendukung ekonomi setelah berakhirnya tindakan lockdown dan menghindari adanya jurang fiskal menurut laporan itu. Sementara utang publik meningkat, OECD meredakan kekhawatiran dengan mengatakan bahwa biaya pinjaman masih rendah.

Namun, dikatakan bahwa beberapa pengeluaran telah terbuang percuma karena tidak adanya korelasi antara tingkat bantuan fiskal dan kinerja ekonomi yang dihasilkan.

Dukungan harus ditujukan pada perusahaan dan kelompok rentan yang paling terpukul krisis, termasuk perusahaan kecil yang kemungkinan besar gulung tikar, berpenghasilan rendah dan rumah tangga miskin dengan jaring pengaman terbatas.

"Meskipun bantuan kebijakan besar dan bahkan dalam skenario terbalik, pandemi akan merusak struktur sosial ekonomi negara-negara di seluruh dunia,” kata Boone.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi global oecd
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top