Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Industri BBO, Kemenperin : Pemilu Amerika Serikat Pengaruhi Investasi

Kemenperin menyatakan penarikan investasi pada industri bahan baku obat (BBO) memenuhi dua dari empat kriteria fokus investasi kementerian. Keempat kriteria tersebut adalah substitusi impor, berorientasi ekspor, padat karya, dan berbasis teknologi tinggi.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 01 Desember 2020  |  16:35 WIB
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Terawan Agus Putranto meninjau pabrik Kimia Farma.  - Kimia Farma
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Terawan Agus Putranto meninjau pabrik Kimia Farma. - Kimia Farma

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan penarikan investasi pada industri bahan baku obat (BBO) memenuhi dua dari empat kriteria fokus investasi kementerian. Keempat kriteria tersebut adalah substitusi impor, berorientasi ekspor, padat karya, dan berbasis teknologi tinggi.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan penarikan investasi pada industri BBO memenuhi dua kriteria, yakni substitusi impor dan berbasis teknologi tinggi. Seperti diketahui, sebagian investor yang telah melakukan dialog dengan Kemenperin terkait investasi industri BBO berasal dari Amerika Serikat.

"Kami berpendapat akan ada perbedaan kebijakan dengan terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat terhadap kondisi geopolitik yang berdampak pada ekonomi dunia, khususnya di kawasan ini [industri BBO]. Sehingga, kami perlu mencermati kebijakan presiden terpilih Amerika Serikat tersebut," katanya kepada Bisnis, Selasa (1/12/2020).

Agus melanjutkn pihaknya telah menyiapkan beberapa insentif fiskal untuk menarik investasi ke industri BBO. Beberapa insentif fiskal yang dimaksud adalah tax holiday, tax allowance, dan super tax deduction.

Di samping itu, pihaknya juga telah membuat adanya kepastian berusaha untuk industri BBO. Hal tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) No. 16/2020 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penghitungn Nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri Produk Farmasi.

Permenperin No. 16/2020 mengatur bahwa asal tenaga kerja, permesinan, dan asal material memiliki peranan lebih tinggi dibandingkan nilai investasi. Adapun,kandungan bahan baku memiliki bobot 50 persen, penelitian dan pengembangan sekitar 30 persen, produksi hingga 15 persen, dan pengemasan hanya 5 persen.

Berdasarkan data Kemenperin, ketergantungan impor pada 2020 akan berkurang sebesar 2,72 persen menjadi sekitar 92 persen. Hal tersebut didasarkan oleh produksi beberapa BBO oleh PT Kimia Farma Sungwoon Pharmacopia (KFSP) pada tahun ini, seperti Simvastatin (4,2 ton), Atorvastatin (0,7 ton), Clopidogrel (7,6 ton), dan Entecavir (371 gram).

Sebelumnya, Direktur Industri Kimia Hilir dan Farmasi Kemenperin Muhammad Taufik mengatakan ketergantungan impor BBO akan terus berkurang hingga 2024. Pada 2024, menurutnya, nilai impor BBO akan berkurang 20,52 persen, artinya ketergantungan impor BBO hanya akan menjadi sekitar 74 persen.

Adapun, dua jenis BBO besutan KFSP dengan kapasitas produksi terbesar adalah PVP Iodine (84,83 ton) dan Rifampisin (67) ton. Kedua BBO tersebut direncanakan akan diproduksi pada 2023.

Taufik menyatakan kepastian usaha industri BBO kini lebih tinggi lantaran telah diterbitkannya ketentuan dan tata cara perhitungan nilai tingkat komponen dalam negeri (TKDN) produk farmasi. Aturan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) No. 16/2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

farmasi bahan baku obat
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top