Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Badai Penjualan Ritel Dunia Belum Berakhir

Pelarangan mobilitas antar negara memangkas jumlah turis yang biasanya berbelanja barang mewah di kawasan perbelanjaan terkemuka di dunia.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 26 November 2020  |  15:10 WIB
Bond Street tertekan sangat dalam selama Covid-19 karena kawasan ini bergantung pada mobilitas para turis asing dan para pekerja kantoran di London. - Bloomberg
Bond Street tertekan sangat dalam selama Covid-19 karena kawasan ini bergantung pada mobilitas para turis asing dan para pekerja kantoran di London. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Toko-toko di kawasan perbelanjaan mulai dari Bond Street di London, Champs-Elysées di Paris, hingga Ginza di Tokyo berharap-harap cemas bahwa promosi Black Friday dan Hari Natal mampu menggenjot penjualan pada penghujung tahun ini. 

Dengan pandemi Covid-19 yang masih melanda di sejumlah negara, banyak konsumen yang enggan berkunjung ke toko-toko itu. Pelarangan mobilitas antar negara juga memangkas jumlah turis yang biasanya berbelanja barang mewah di kawasan-kawasan tersebut.

Bond Street, London

“Sesuai dengan perkataan Ratu, tahun ini akan menjadi salah satu annus horribilis [tahun paling menyeramkan] untuk para peritel di kawasan perbelanjaan mewah,” kata Asisten Direktur Bond Street dan Mayfair di New West End, Katie Thomas, dikutip dari South China Morning Post, Kamis (26/11/2020).

Bond Street tertekan sangat dalam karena kawasan ini bergantung pada mobilitas para turis asing dan para pekerja kantoran di London. Kunjungan ke toko sudah anjlok hingga separuhnya ketika Covid-19 memaksa semua toko di kawasan ini harus tutup.

“Ini adalah badai yang sempurna,” jelasnya.

Champs-Elysées, Paris

Melonjaknya kasus infeksi Covid-19 di Prancis telah memaksa adanya lockdown kedua sehingga semua bisnis non esensial harus tutup pada 30 Oktober 2020.

“Jika kita tidak boleh buka pada 1 Desember, maka dampaknya akan sangat serius,” kata Generam Manager Comité Champs-Elysées, Edouard Lefebvre.

Champs-Elysées telah menghadapi berbagai kejadian tak menyenangkan selama beberapa tahun terakhir misalnya serangan terorisme, demonstrasi, hingga kerusuhan setelah pertandingan olahraga. Lockdown lanjutan akan sangat menekan kinerja bisnis di kawasan ini di tengah pandemi.

Ginza, Tokyo

Kawasan perbelanjaan di Ginza adalah salah satu distrik belanja paling terkenal di Tokyo. Momen penghujung tahun biasanya merupakan saat panen bagi para peritel karena kawasan ini bakal dipadati oleh warga Jepang dan juga turis asing yang akan menghabiskan liburan Natal dan Tahun Baru di Negara Matahari Terbit ini.

Tetapi tahun ini, banyak toko-toko di kawasan ini masih tutup. Jepang masih memberlakukan pembatasan masuknya turis asing masuk ke negaranya sehingga hingar bingar seperti tahun lalu belum tentu terjadi pada tahun ini.

Causeway Bay, Hong Kong

Deretan toko-toko yang berada di Causeway Bay, kawasan pusat perbelanjaan terkenal di Hong Kong, harus menelan pil pahit pada tahun ini. Tak hanya pandemi Covid-19 yang menekan penjualan mereka, tetapi juga demonstrasi pro demokrasi yang berlangsung selama 18 bulan berturut-turut membuat kawasan ini tak lai berbinar.

Untuk mendongkrak kunjungan turis asing, Hong Kong dan Singapura sudah melakukan kerja sama travel bubble yang memungkinkan para turis asing tidak perlu melakukan karantina setelah tiba di Hong Kong. Tetapi dengan adanya lonjakan kasus infeksi, kerja sama ini ditunda pelaksanaannya.

“Ada perasaan bahwa peristiwa lebih buruk akan terjadi nanti, dengan virus dan situasi politik saat ini,” kata Managing Director Agility Research, Amrita Banta.

Fifth Avenue, New York

Fifth Avenue masih menjadi rumah bagi dua pusat perbelanjaan terbesar di dunia yakni Saks Fifth Avenue dan Bergdorf Goodman. Tetapi jumlah penyewa kios toko mulai berkurang misalnya Henri Bendel dan Barneys New York yang menutup tokonya. Hanya berjarak satu blok, sejumlah toko termasuk yang pernah ditempati merek Ralph Lauren masih kosong.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pusat perbelanjaan barang mewah Covid-19
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top