Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Promosi Virtual Jadi Terobosan Penting Industri Pariwisata

Program promosi virtual meramaikan cara dalam mempromosikan produk-produk pariwisata di era digitalisasi.
Sejumlah perwakilan agen perjalanan pariwisata berswafoto dengan penari saat travel gathering bertajuk We Love Bali di kawasan Pantai Pandawa, Badung, Bali, Jumat (4/9/2020). rn
Sejumlah perwakilan agen perjalanan pariwisata berswafoto dengan penari saat travel gathering bertajuk We Love Bali di kawasan Pantai Pandawa, Badung, Bali, Jumat (4/9/2020). rn

Bisnis.com, JAKARTA – Promosi virtual destinasi wisata dinilai sebagai terobosan penting bagi industri sebagai satu-satunya tonggak paling kuat saat ini dalam menjaga arus kas pelaku usaha pariwisata. 

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran menilai program promosi secara virtual yang masih dalam tahap uji coba tersebut sebagai konsep yang solutif di masa pandemi Covid-19.

"Untuk saat ini promosi virtual sangat diharapkan. Pasalnya, promosi offline mati suri sudah mati sejak adanya pandemi," ujar Maulana kepada Bisnis.com, Kamis (26/11/2020).

Menurutnya, konsep promosi virtual yang masih di awal-awal pemanfaatan bakal menjadi project pilot bagi semua pemangku kepentingan pariwisata, baik itu pemerintah maupun pelaku usaha. Program tersebut diperkirakan menjadi satu sampling yang baik karena dari sisi promosi bisa jauh lebih murah.

Tidak hanya itu, program promosi virtual juga meramaikan cara dalam mempromosikan produk-produk pariwisata di era digitalisasi yang mana industri tersebut tidak lagi bisa sepenuhnya mengandalkan promosi luring.

"Sebagai sampling, nanti akan dilihat bagaimana hasilnya dan akan dievaluasi untuk diperbaiki ke depan," jelas Maulana.

Namun demikian, pemangku kepentingan di sektor pariwisata diperkirakan tetap mempertimbangkan promosi secara luring, terutama setelah vaksin Covid-19 terbukti efektif dan kondisi industri pariwisata mulai berjalan normal.

Pasalnya, jelas Maulana, industri pariwisata dengan karakteristik business-to-consumer (B2C) dinilai akan tetap cenderung menggunakan cara luring sehingga keduanya akan berjalan secara paralel.

"Akan ada produk-produk tertentu untuk diyakinkan ke pasar melalui direct communication. Kalau kita ngomong B2C, tidak serta merta pasar bisa beralih dari offline menjadi online. Ini agak rumit. Publik biasanya lebih prefer untuk melakukan secara offline," ujarnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper