Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bisnis Properti Tertekan, Pengembang Besar Tetap Luncurkan Proyek

Pengembang besar tetap meluncurkan proyek properti terutama hunia pada saat pabndemi masih menekan kondisi perekonomian secara keseluruhan termasuk bisnis properti.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 20 November 2020  |  18:06 WIB
Pemandangan gedung bertingkat di Jakarta./Bisnis - Arief Hermawan P.
Pemandangan gedung bertingkat di Jakarta./Bisnis - Arief Hermawan P.

Bisnis.com, JAKARTA – Sepanjang tahun ini, sektor properti dihantui oleh pandemi Covid-19. Di satu sisi pandemi Covid-19 ini memang berdampak pada sektor properti. Namun, pandemi ini membuat pengembang makin ekspansif dalam meluncurkan produk mereka.

Pengembang yang ekspansif selama pandemi ini merupakan para pengembang besar, kata CEO Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda pada Jumat (20/11/2020).

Dia mengatakan pandemi Covid-19 tak menyurutkan para pengembang besar untuk mengeluarkan produk baru mereka. Hal itu terbukti sepanjang tahun ini ada 56 proyek landed house baru yang diluncurkan yang tersebar Jabodetabek, Karawang,  Bandung, Bali, Batam, dan Palembang.

"Ini [pandemi] tidak menyurutkan pengembang buat proyek. Kebanyakan landed proyek ada 56 proyek dan launching ini terjadi lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum pandemi," ujarnya kepada Bisnis pada Jumat (20/11/2020).

Dia mencontohkan proyek landed tersebut antara lain Kota Podomoro Tenjo oleh Agung Podomoro Group, Dhama Vasaka Bali oleh Waskita Reality, Glory Hill di Batam oleh PT Glory Point.

Menurutnya, masifnya launching produk properti di kala pandemi dikarenakan daya beli yang masih ada meskipun terbatas pada segmen tertentu dan juga properti menjadi pilihan utama untuk investasi. Hal itulah yang membuat para pengembang meluncurkan banyak proyek di tengah pandemi.

"Daya beli masyarakat Indonesia itu ada, buktinya, setiap ada penjualan properti selalu sold, ini masih ada daya beli. Walaupun pertumbuhan ekonomi menurun, pasar propeti mengalami anomali, buktinya saat PSBB dibuka penjualan properti terutama hunian langsung naik. Ini daya beli masih ada, dana pihak ketiga yang tersimpan di bank dan tabungan Rp5 miliar pun meningkat," tuturnya.

Ali menilai saat ini bagaimana upaya para pengembang dan pemerintah membuat masyarakat tak mengendapkan dananya di perbankan tetapi memutarkan uangnya dengan berinvestasi properti agar perekonomian bergerak.

Ketua Umum DPP Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) Lukas Bong menuturkan pandemi tak menyurutkan masyarakat untuk membeli properti. Meskipun ada penurunan harga baik properti primer dan second, minat pembelian properti tetap ada dan meningkat.

"Jadi, sekarang banyak orang yang membeli properti hunian. Kalau saat sebelum pandemi mereka sulit beli properti, saat pandemi ini mereka bisa karena harga yang murah," ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti Covid-19
Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top