Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Efek Stimulus Minim, Kemenkeu Akui Konsumsi Kalangan Menengah ke Atas jadi PR

Harapannya insentif tersebut bisa mempertahankan daya beli. Akan tetapi itu diakui tidak berdampak maksimal. Alasannya kontribusi terbesar konsumsi rumah tangga ada di kalangan menengah atas. Mereka saat ini cenderung menahan uangnya.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 03 November 2020  |  14:07 WIB
Sebelum dunia dilanda pandemi Covid-19, pusat perbelanjaan di Jakarta ramai dikunjungi. Ratusan pengunjung mal mencoba permainan Ice Skeating di Pondok Indah Mal Jakarta, Selasa (25/12/2019).  - BISNIS/YAY
Sebelum dunia dilanda pandemi Covid-19, pusat perbelanjaan di Jakarta ramai dikunjungi. Ratusan pengunjung mal mencoba permainan Ice Skeating di Pondok Indah Mal Jakarta, Selasa (25/12/2019). - BISNIS/YAY

Bisnis.com, JAKARTA - Stimulus yang dikeluarkan pemerintah untuk menggeliatkan daya beli masyarakat di tengah pandemi Covid-19 belum berbuah maksimal.

Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi di kuartal III/2020 diprediksi kembali minus meski lebih baik dibandingkan periode sebelumnya.

Staf Ahli Menteri Keuangan, Yustinus Prastowo mengatakan bahwa insentif yang diberikan terus dievaluasi. Program yang dikeluarkan salah satunya bantuan sosial merupakan masukan dari berbagai pihak.

Harapannya insentif tersebut bisa mempertahankan daya beli. Akan tetapi itu diakui tidak berdampak maksimal. Alasannya kontribusi terbesar konsumsi rumah tangga ada di kalangan menengah atas. Mereka saat ini cenderung menahan uangnya.

“Kita memang berharap menengah atas karena mereka belum mau ke mal, piknik, atau belenja. Mereka belum butuh karena belum mau ke mana-mana,” katanya dalam diskusi virtual, Senin malam (2/11/2020).

Dengan kondisi pertumbuhan yang negatif selama dua kuartal berturut-turut, Indonesia dipastikan akan resesi. Akan tetapi Yustinus menjelaskan bahwa ini bukan akhir.

“Resesi atau tidak bukan persoalan kalau kita lihat sebagai oportunitas. Kita pernah atasi situasi yang lebih berat tapi bisa bangkit,” jelasnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di triwulan III akan kembali negatif.

“Perkiraan kita [pertumbuhan ekonomi] di angka minus 3 persen,” katanya di Istana Negara, Senin (2/11/2020).

Konsumsi rumah tangga dan investasi akan menjadi penyebab utama ekonomi kembali terkontraksi. Rumah tangga diperkirakan minus 4 persen dan investasi 6 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

konsumsi stimulus daya beli
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top