Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bangun Pabrik Baru, Petrokimia Gresik Gandakan Produksi Aluminium Florida

Tahun depan PT Petrokimia Gresik berencana merealisasikan startegi peningkatan kapasitas guna memaksimalkan kinerja dengan pembangunan pabrik baru untuk produk Alumunium Florida (AlF3). Dengan pabrik baru ini, kapasitas produksi AlF3 akan meningkat dua kali lipat menjadi 25.000 MT per tahun.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 01 November 2020  |  16:35 WIB
Pabrik Surfaktan. Tahun ini, Petrokimia Gresik berhasil menghasilkan produk baru, Methyl Ester Sulfonate (MES). MES Petrokimia Gresik ini dikembangkan bersama dengan Surfactant Bioenergy Research Centre Institut Pertanian Bogor (SBRC IPB).  - Petrokimia Gresik
Pabrik Surfaktan. Tahun ini, Petrokimia Gresik berhasil menghasilkan produk baru, Methyl Ester Sulfonate (MES). MES Petrokimia Gresik ini dikembangkan bersama dengan Surfactant Bioenergy Research Centre Institut Pertanian Bogor (SBRC IPB). - Petrokimia Gresik

Bisnis.com, JAKARTA - Tahun depan PT Petrokimia Gresik berencana merealisasikan startegi peningkatan kapasitas guna memaksimalkan kinerja dengan pembangunan pabrik baru untuk produk Alumunium Florida (AlF3). Dengan pabrik baru ini, kapasitas produksi AlF3 akan meningkat dua kali lipat menjadi 25.000 MT per tahun.

Direktur Utama Petrokimia Gresik Dwi Satriyo Annurogo mengatakan produk aluminium khususnya pada segmen transportasi terus meningkat setiap tahunnya. Alhasil, kebutuhan AlF3 yang merupakan bahan penolong peleburan juga menjadi meningkat.

Saat ini, Petrokimia Gresik memiliki kapasitas produksi AlF3 sebesar 12.600 ton per tahun. Dari jumlah tersebut, pada tahun ini, sekitar 5.000 ton diantaranya dijual kepada PT Inalum (Indonesia Asahan Aluminium) sebagai bahan penolong peleburan aluminium.

Selain dalam negeri, kebutuhan AlF3 di pasar global juga sangat besar. Petrokimia Gresik selama ini mengekspor ke negara-negara yang masih defisit seperti Amerika, Eropa, India, Timur Tengah, dan Afrika.

Apalagi, AlF3 produk Petrokimia Gresik memiliki harga jual produk yang kompetitif dibandingkan dengan pasar global, bahkan profit margin bisa mencapai 25 persen apabila menggunakan bahan baku limbah dari Pabrik Asam Sulfat.

"Keuntungan lain pembangunan pabrik AlF3 bagi Petrokimia Gresik adalah mengurangi limbah H2SiF6 yang merupakan hasil samping dari Pabrik Asam Sulfat. Apabila perusahaan tidak memproduksi AlF3 maka akan menghabiskan biaya sekitar Rp40 miliar per tahun untuk mengelola limbahnya. Sedangkan dengan adanya pabrik baru AlF3 ini perusahaan bisa meningkatkan revenue sebesar Rp245 miliar per tahun," katanya melalui siaran pers, Minggu (1/11/2020).

Tak hanya itu, Petrokimia Gresik akan bertransformasi dari single industry firm menjadi related diversified industry. Strategi ini tentu dilakukan dengan meneruskan hilirisasi produk. Perseroan akan memilih produk hilir berbasis gas alam, fosfat dan sulfur yang mempunyai nilai tambah yang besar.

Tahun ini, Petrokimia Gresik berhasil menghasilkan produk baru, Methyl Ester Sulfonate (MES). MES Petrokimia Gresik ini dikembangkan bersama dengan Surfactant Bioenergy Research Centre Institut Pertanian Bogor (SBRC IPB).

MES adalah bio-degradable surfactant yang dapat digunakan di sektor minyak dan gas (migas) untuk meningkatkan produksi lapangan minyak tua melalui teknologi EOR (Enhanced Oil Recovery). "Ini merupakan terobosan penting dan diharapkan bagi pelaku industri sektor migas di Indonesia," kata Dwi.

MES diproduksi di Pabrik III dengan memanfaatkan gas SO3 yang biasa digunakan untuk memproduksi asam sulfat. Produksi MES ini akan meningkatkan profitabilitas Pabrik III, karena harga MES bisa mencapai 200 kali lipat lebih mahal dibandingkan harga asam sulfat.

Strategi terakhir adalah pengembangan produk baru melalui pembangunan proyek baru. Proyek pembangunan pabrik baru harus bisa memperkuat posisi Petrokimia Gresik sebagai perusahaan berbasis related diversified industry. Untuk itu pembangunan pabrik perseroan baru akan difokuskan pada hilirisasi produk.

Dalam kerangka itu, Petrokimia Gresik segera membangun Pabrik Soda Ash dengan kapasitas 300.000 ton. Pabrik Soda Ash ini, bakal menjadi yang pertama di Indonesia, dan akan menjadi penopang penting dalam mendukung tumbuh kembangnya industri kaca dan deterjen dalam negeri.

Pabrik ini nanti juga mampu mengurangi dampak dari CO2 yang merupakan hasil samping dari Pabrik Amoniak sebesar 174.000 ton. Bagi perseroan, Soda Ash mampu menyumbangkan revenue US$87 juta setiap tahunnya.

Selain itu, produk samping berupa Alumunium Klorida (NH4CL) dapat digunakan sebagai bahan baku NPK, sehingga kebutuhan ZA untuk bahan baku dapat berkurang sebesar 364.000 ton setiap tahunnya. "Untuk itu kita tidak akan perlu lagi mengimpor ZA," kata Dwi.

Adapun bahan baku yang dibutuhkan adalah garam, Petrokimia Gresik dapat bersinergi bersama PT Garam (Persero) dengan jumlah kebutuhan mencapai 100.000 MTPY, dan hal ini juga telah mendapat dukungan dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa guna peningkatan taraf hidup petani garam.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

petrokimia gresik aluminium
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top