Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Strategi & Arah Baru Pariwisata Nasional Pascapandemi Disiapkan

Pemerintah serius dan berkomitmen tinggi dalam pembangunan pariwisata. Selain Indonesia memang mempunyai potensi pariwisata yang besar, pasar pariwisata global juga sangat besar dan masih berkembang.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 22 Oktober 2020  |  02:51 WIB
Seorang wisatawan menikmati keindahan Tanah Lot di Tabanan, Bali./Bisnis.com - M. Syahran W. Lubis
Seorang wisatawan menikmati keindahan Tanah Lot di Tabanan, Bali./Bisnis.com - M. Syahran W. Lubis

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mulai mengkaji strategi sekaligus arah baru pembangunan kepariwisataan nasional dalam mengantisipasi berbagai perubahan dan persaingan antarnegara pascapandemi Covid-19.

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Wakil Angela Tanoesoedibjo saat memberikan pidato kunci di acara "Workshop Kajian Strategi dan Arah Baru Pengembangan Kepariwisataan Nasional Pasca-Covid-19" di Jakarta pada Rabu (21/10/2020), mengatakan pascapandemi, negara-negara yang bertumpu pada pariwisata akan berlomba untuk menjaring kedatangan turis dengan berbagai insentif dan program.

Pada saat bersamaan, negara-negara tersebut akan menahan warganya untuk tetap mengonsumsi produk wisata di dalam negerinya masing-masing.

"Kemenparekraf/Baparekraf menyusun kajian strategi dan arah baru pengembangan kepariwisataan nasional pascapandemi Covid-19 agar Indonesia dapat memaksimalkan beragam potensi sebagai tujuan wisata utama kelas dunia," kata Angela.

Dia menambahkan pariwisata merupakan salah satu sektor penting bagi Indonesia. Pada 2019 sektor ini menyumbang devisa sekitar Rp280 triliun dengan jumlah wisatawan mancanegara 16,11 juta dan tercatat ada 282,93 juta perjalanan wisatawan nusantara.

Total pariwisata Indonesia berkontribusi US$63,6 miliar atau 6 persen dari total PDB. Selain itu, sektor pariwisata tercatat menyerap lebih dari 12,6 juta tenaga kerja atau setara 10 persen dari jumlah tenaga kerja di Indonesia.

Akan tetapi, pencapaian itu belum mencerminkan potensi pariwisata Indonesia sesungguhnya. Pada 2019 negara-negara di Asean secara total mencatat ada sekitar kunjungan 133,1 juta turis. Dari jumlah tersebut, Indonesia di posisi destinasi kelima setelah Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Singapura.

Dari sisi aset pariwisata, Angela mengatakan potensi Indonesia sangat beragam. Mulai dari kekayaan alam, flora fauna, budaya, serta keramahan masyarakat yang bisa menjadi modal besar bagi pembangunan pariwisata.

Dia pun mengatakan destinasi di Indonesia berulang kali dianugerahi penghargaan dunia sebagai destinasi pariwisata terbaik terfavorit, bahkan lebih unggul dari negara yang jumlah kedatangan turis dan pendapatannya lebih tinggi dari Indonesia.

"Oleh karena itu, pemerintah serius dan berkomitmen tinggi dalam pembangunan pariwisata. Selain Indonesia memang mempunyai potensi pariwisata yang besar, market pariwisata secara global juga sangat besar dan masih berkembang," kata Angela.

Menurut Angela, tantangan pariwisata di Indonesia dari sebelum pandemi adalah masih banyaknya potensi pasar yang belum tergarap.

Dengan pandemi, tantangan pariwisata adalah perubahan tren pasar dan permintaan lasar yang harus bisa diantisipasi dan hadapi termasuk memaksimalkan pergerakan wisnus serta mendorong wisatawan outbound.

Tercatat wisatawan Indonesia yang ke luar negeri pada 2018 sebesar 9,5 juta orang dengan pengeluaran sebesar US$1.090 per keberangkatan per paket. Jika ditotal, belanja tersebut setara US$10,35 miliar atau kurang lebih Rp150 triliun. Angka tersebut merupakan potensi yang bisa dimaksimalkan.

"Ketika kita sudah bisa mencocokkan antara potensi destinasi dengan potensi market, pengembangan destinasi, produk, pengalaman dan lain sebagainya, tentunya bisa disesuaikan dengan profil market yang akhirnya bisa menghasilkan spending yang besar, masa kunjungan yang panjang, dan terutama menciptakan loyalitas atau repeat travellers. Sehingga pada akhirnya Indonesia menjadi top of mind atau pilihan terutama dalam wisata," paparnya.

Oleh karena itu, Angela menekankan bahwa dasar kebijakan dan upaya-upaya strategis dalam meningkatkan ketahanan dan kemampuan sektor pariwisata amatlah penting.

Hal ini diperlukan untuk mendorong akselerasi pengembangan sektor pariwisata nasional dan daerah pascapandemi Covid-19 sehingga sektor pariwisata bisa menyumbang devisa lebih besar dan menciptakan lapangan kerja lebih luas.

Sementara itu, Deputi Bidang Kebijakan Strategis Kemenparekraf Kurleni Ukar mengatakan kajian strategi dan arah baru pembangunan kepariwisataan nasional pascapandemi Covid-19 didasarkan pada empat arahan Presiden Joko Widodo soal tatanan normal baru pada sektor pariwisata.

Namun, secara khusus, strategi dan arah baru pembangunan kepariwisataan nasional fokus pada identifikasi pasar, aksesibilitas, dan konektivitas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pariwisata
Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top