Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Rumah di Inggris Capai Rekor, Demand Lewati Supply Pertama Kali

Bisnis perumahan di Inggris mencapai rekor harga tertinggi dengan untuk pertama kalinya jumlah permintaan melewati jumlah pasokan.
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 21 Oktober 2020  |  06:23 WIB
Perumahan di London, Inggris./Bloomberg - Chris J. Ratcliffe
Perumahan di London, Inggris./Bloomberg - Chris J. Ratcliffe

Bisnis.com, JAKARTA – Harga rumah di Inggris naik mencapai rekor pada Oktober dengan agen melihat jumlah penjualan tertinggi yang pernah disepakati dalam sebulan di tengah ledakan pasar yang dipicu pemotongan pajak.

Harga yang diiklankan naik 5,5 persen dari tahun sebelumnya, terbesar dalam lebih dari 4 tahun, demikian pernyataan situs properti Rightmove. Nilai rata-rata naik 1,1 persen dari September menjadi 323.530 pound sterling (Rp6,14 miliar).

Penurunan pajak atas pembelian rumah yang dirancang untuk memacu aktivitas, serta permintaan yang terpendam setelah lockdown nasional Inggris akibat pandemi corona pada awal tahun ini, membuat lebih banyak properti yang dijual daripada yang dipasok untuk pertama kalinya, menurut laporan itu.

Penjualan tercatat naik 70 persen yoy, kata Rightmove, dan pada perkembangannya, Perdana Menteri Boris Johnson mengisyaratkan lebih banyak dukungan untuk pasar, dengan menjanjikan pemberian pinjaman rumah yang lebih banyak untuk jutaan pembeli rumah pertama mereka.

Namun, kekhawatiran tentang kekuatan pemulihan ekonomi, kehilangan pekerjaan yang diantisipasi, dan berakhirnya keringanan pajak pada Maret 2021, membebani prospek. Rightmove memprediksi tingkat pertumbuhan harga tahunan mencapai puncaknya sekitar 7 persen pada Desember 2020.

"Sementara tingkat aktivitas terus mencengangkan, ada beberapa tanda momentum mereda dari tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata Tim Bannister, direktur data situs properti tersebut.

Sebagian besar bisnis tidak terlalu berharap permintaan kembali ke tingkat sebelum pandemi sampai setidaknya musim panas mendatang, menurut laporan terpisah.

Survei Deloitte terhadap 102 chief financial officer (CFO) menemukan 62 persen dari mereka memprediksi bahwa pemulihan permintaan tidak akan terjadi sampai kuartal II/2021.

Pengusaha berencana untuk mempertahankan, rata-rata, 82 persen dari staf mereka yang cuti setelah program dukungan upah selesai pada akhir bulan ini, demikian hasil jajak pendapat tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti perumahan inggris

Sumber : Bloomberg

Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top