Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Jual Sayuran Online, Petani Hidroponik Palembang Bertahan di Tengah Pandemi

Penjualan sayuran hidroponik secara online malah naik sampai 40 persen dari Facebook dan Instagram ketimbang saat kondisi normal.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 19 Oktober 2020  |  16:16 WIB
Adie Alqodery, 42 tahun, owner Green Corner Hydroponic Palembang, menunjukkan panen tanaman hidroponik. istimewa
Adie Alqodery, 42 tahun, owner Green Corner Hydroponic Palembang, menunjukkan panen tanaman hidroponik. istimewa

Bisnis.com, PALEMBANG - Bercocok tanam dengan teknik hidroponik marak dilakukan masyarakat perkotaan, tak terkecuali warga di Kota Palembang. Selain untuk memenuhi kebutuhan pribadi, pertanian hidroponik juga telah menjadi tren bisnis pertanian modern.

Malah di tengah pandemi Covid-19, usaha pertanian yang digeluti sejumlah penggiat hidroponik dapat bertahan dengan kiat pemasaran online.

Seperti yang telah dilakukan oleh Adie Alqodery, 42 tahun, owner Green Corner Hydroponic Palembang,  yang berhasil menjalani bisnis produk pertanian berbasis teknik hidroponik di pekarangan rumahnya dan memasarkannya di Facebook. 

Pria yang menggeluti pertanian hidroponik sejak 8 tahun lalu itu mengaku ide bisnis tersebut datang dari pengamatan dirinya terhadap kondisi di sekitar tempat tinggal.

“Awalnya lagi main internet di rumah, lalu melihat tanaman yang tumbuh di pot pipa yang menarik perhatian kami. Kami ajak bertemu pemilik tanaman itu, berdiskusi tentang hidroponik ini, dan akhirnya memutuskan untuk mengembangkan bisnis ini,” ujar Adie dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Senin (19/10/2020).

Kini Adie mengembangkan usaha tak hanya sebagai pemasok sayuran hidroponik, namun juga penyedia instalasi, dan sarana pelatihan untuk teknik bercocok tanam hidroponik.

Menurut Adie, kala itu bisnis sayuran hidroponik belum digeluti masyarakat di Palembang. Dapat dibilang, Adie tergolong petani dan pemasok sayuran hidroponik pertama di Palembang lantaran produk sayuran ini masih dipasok dari luar kota seperti Jakarta, Bandung, dan Medan.

Saat ini terdapat 12 jenis sayuran yang ditanam Adie di green house seluas 300 meter persegi, mulai dari sayur bayam, kangkung, kailan, kale, hingga selada. Sayuran segar ini dipasok ke pasar tradisional, pasar swalayan, toko ritel, hotel, hingga restoran di Palembang.

“Sebenarnya masing-masing itu ada pasarnya. Setiap jenis sayur punya pasar yang berbeda-beda,” kata dia.

Adie memaparkan sayur sawi-sawian seperti sawi sendok (pakcoy) dan caisim paling banyak permintaanya dari restoran, sedangkan jenis sayur seperti selada untuk hidangan salad sangat diminati perhotelan. 

“Sementara, kalau konsumsi rumah tangga itu biasanya jenis-jenis bayam dan kailan karena memiliki kandungan gizi tinggi,” terangnya.

Menurut Adie, kendati PSBB yang diterapkan beberapa waktu lalu di Palembang berdampak pada pemesanan sayuran dari hotel dan restoran, tetapi konsumsi dari kelompok pelanggan rumah tangga memiliki kontribusi yang cukup baik terhadap omzet bisnisnya secara keseluruhan. 

Hal itu lantaran Adie mengalihkan fokus penjualan ke platform media sosial Facebook dan Instagram.

“Semenjak berlakunya karantina atau PSBB, banyak usaha rumah makan tutup. Untuk kelompok pelanggan rumah tangga, mereka juga tidak berani keluar saat itu. Saya berpikir harus lebih gencar promosi di online,” katanya.

Dia mengklaim penjualan secara online malah naik sampai 40 persen dari Facebook dan Instagram ketimbang saat kondisi normal.

Awalnya, lanjut Adie, ia memakai akun Facebook pribadi untuk sekadar memposting foto kegiatan berkebun dan foto sayuran hidroponik yang berhasil ia tanam. Seiring berjalannya waktu, kian banyak orang yang tertarik dengan postingan Adie dan mulai bertanya hingga akhirnya membeli.

Dari situ, ia menyadari potensi besar media sosial untuk mengembangkan bisnis hidroponiknya ke tingkat selanjutnya.

Untuk membangun kepercayaan dan kredibilitas, bisnis Adie hadir di Facebook melalui Halaman Green Corner Hydroponic Palembang. Menurutnya, Halaman Bisnis di Facebook membuatnya lebih leluasa untuk mempromosikan produk sayuran dan berinteraksi dengan calon pelanggan. 

“Saya coba mempelajari fitur-fitur yang ada di Facebook itu. Ketemulah fitur Facebook Page dan saya buat. Saya siapkan Page dengan memasukkan nomor handphone dan alamat. Semua terhubung pada akhirnya,” jelas Adie.

Dalam upayanya untuk memudahkan pelanggan, ia tak lupa menautkan halaman bisnisnya dengan akun WhatsApp, sehingga pelanggan tidak perlu menyimpan kontak terlebih dahulu, tetapi dapat langsung mengklik tombol berlogo WhatsApp untuk memulai percakapan. Ia mengatakan bahwa proses jual beli sayuran hidroponik terjadi secara lintas platform Facebook, Instagram, dan WhatsApp.

Seiring berjalan waktu, bisnis Adie kian berkembang. Kini, selain menjual hasil tani sayuran hidroponik, ia membantu orang-orang yang ingin bertani dengan membangun instalasi hidroponik di rumah mereka. 

Apalagi masa pandemi membuat banyak orang memiliki lebih banyak waktu luang di rumah dan tidak sedikit yang memanfaatkannya untuk berkebun secara hidroponik. 

Adie juga memberdayakan para pensiunan ASN dan kelompok tani skala rumah tangga yang telah bergabung dalam komunitas dengan membantu menjual hasil kebun mereka.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sayuran hidroponik organik
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top