Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ribuan Restoran Berpotensi Gulung Tikar, Nampa: Dampak ke Industri Tak Signifikan

Volume permintaan daging olahan oleh pasar hotel, restoran, dan kafe (horeka) tidak terlalu besar.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 10 Oktober 2020  |  17:42 WIB
Restoran Mie Ayam Marta di lantai dasar Lotte Mart Fatmawati, Jakarta Selatan, menyediakan mie ayam dengan bayaran seikhlasnya, Sabtu (18/7/2020). - Antar\n\n
Restoran Mie Ayam Marta di lantai dasar Lotte Mart Fatmawati, Jakarta Selatan, menyediakan mie ayam dengan bayaran seikhlasnya, Sabtu (18/7/2020). - Antar\\n\\n

Bisnis.com, JAKARTA - National Meat Producer Association (Nampa) menyatakan potensi maraknya penutupan restoran dalam pusat perbelanjaan akan cukup berpengaruh pada sebagian pabrikan daging olahan. Namun demikian, dampak tersebut masih bisa diterima secara industri. 

Ketua Umum Nampa Ishana Mahisa menyatakan volume permintaan daging olahan oleh pasar hotel, restoran, dan kafe (horeka) tidak terlalu besar. Sementara itu, lanjutnya, permintaan dari restoran dalam pusat perbelanjaan lebih kecil lagi. 

"Pabrikan yang khusus jualan [ke] food service hanya ada beberapa dan sebagian besar melayani general trade dan modern market," katanya kepada Bisnis, Sabtu (10/10/2020). 

Seperti diketahui, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyatakan ada sekitar 800-1.500 restoran di pusat perbelanjaan yang berpotensi gulung tikar. Dengan kata lain, ada sekitar 20-30 persen restoran dari total restoran nasional yang akan tutup permanen. 

Berdasarkan catatan Nampa, general trade mendominasi permintaan daging olahan nasional di kisaran 60-65 persen. Adapun, pasar horeka menyumbang permintaan di kisaran 15-20 persen, sedangkan pasar modern market hanya berkontribusi sekitar 15 persen. 

Ishana menyampaikan saat ini permintaan daging olahan oleh pasar horeka anjlo sekitar 40-60 persen dibandingkan bulan pra-pandemi. Namun demikian, Ishana menilai restoran di luar pusat perbelanjaan memiliki resiliensi yang lebih kuat dibandingkan yang berada di dalam pusat perbelanjaan. 

"Yang sekarang [permintaanya bisa jalan normal] adalah restoran yang stand-alone, tidak di mall. [Mereka] sudah siap dengan penjualan daring serta memiliki rentang harga ekonomis," ucapnya. 

Walakin, Ishana berujar secara keseluruhan permintaan oleh pasar horeka sudah cukup terdistrupi. Adapun, beberapa pelaku horeka telah meminta penjadwalan ulang pembayaran utang, selain itu pengembangan produk oleh pelaku horeka juga hampir tidak ada. 

Di sisi lain, Ishana menyatakan penanganan Covid-19 menjadi kunci pemulihan utilitas industri daging olahan. Menurutnya, utilitas pabrikan dapat kembali turun ke bawah 65 persen jika penanganan Covid-19 berlarut-larut.

Adapun, pabrikan daging olahan saat ini telah mengurangi produktivitas sekitar 13 persen akibat implementasi protokol kesehatan per Juni 2020. Selain itu, lanjutnya, parikan juga menjadwalkan tenaga kerja untuk keluar pabrik pada siang hari.

Ishana mencatat pasar tradisional menopang 60-65 persen serapan produk daging olahan di dalam negeri. Sementara itu, pasar restoran dan hotel berkontribusi sekitar 15-20 persen, sedangkan pasar modern hanya sekitar 15 persen. 

Ishana berujar permintaan pada pasar modern sedikit meningkat pada awal April 2020 saat pandemi Covid-19 mulai menyerang. Menurutnya, peningkatan tersebut merupakan satu-satunya peningkatan permintaan sepanjang Januari-Mei. 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

daging restoran covid-19
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top