Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Genjot Sektor Pangan dan Pertanian, Ini Terobosan Pemerintah

Pemerintah berkomitmen untuk menggenjot segmen pangan dan pertanian melalui stimulus dan program-program terobosan.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 02 Oktober 2020  |  17:39 WIB
Benih jagung hibrida toleran kekeringan hasil inovasi Badan Litbang Pertanian siap disalurkan untuk petani di Nusa Tenggara Timur (NTT). ANTARA
Benih jagung hibrida toleran kekeringan hasil inovasi Badan Litbang Pertanian siap disalurkan untuk petani di Nusa Tenggara Timur (NTT). ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA -- Kepala Badan Ketahanan Pangan Agung Hendriadi mengatakan pemerintah akan mengoptimasi segmen pangan dan pertanian melalui stimulus dan program-program terobosan.

Dia mengatakan pemerintah saat ini sudah memiliki 3 strategi untuk mengoptimasi sktor tersebut; pertama, melanjutkan penyaluran stimulus; kedua, menjaga harga di tingkat produsen; ketiga, melakukan perbaikan sistem distribusi pangan.

"Ya, pasti kita akan mengoptimasi kemampuan adaptasi sektor pertanian. Terutama, melalui beberapa stimulus dan  program-program terobosan," kata Agung kepada Bisnis (2/10/2020).

Adapun, dalam kebijakan terbaru yang diundangkan pada 19 Maret 2020, pemerintah resmi menaikkan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah petani. Kebijakan tersebut ditempuh dengan menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 24 Tahun 2020 tentang Penetapan Harga Pembelian Pemerintah untuk Gabah atau Beras.

HPP Gabah Kering Panen (GKP) dengan kualitas kadar air maksimal 25 persen dan kadar hampa/kotoran maksimal 10 persen naik menjadi Rp4.200 per kilogram di tingkat petani dan Rp4.250 per kilogram di tingkat penggilingan.

Selanjutnya, HPP Gabah Kering Giling (GKG) kadar air maksimal 14 persen dan kadar hampa atau kotoran 3 persen dihargai Rp5.250 per kilogram di penggilingan serta Rp5.300 per kilogram di gudang Perum Bulog.

Adapun untuk HPP beras sebesar Rp8.300 per kilogram di gudang Perum Bulog dengan syarat, kadar air beras maksimal 14 persen, butir patah maksimal 20 persen, kadar menir paling tinggi 2 persen, dan derajat sosoh paling sedikit 95 persen. 

Terkait dengan hal tersebut, ekonom senior INDEF Bustanul Arifin memberikan 5 rekomendasi untuk kebijakan ke depan bagi pemerintah sebagai bagian dari upaya optimasi segmen pangan dan pertanian.

Pertama, sebagai fondasi perekonomian, petani wajib memeroleh perlindungan perlindungan memadai, salah satunya stabilisasi harga untuk menjaga daya beli; kedua, pembiayaan pertanian, pengembangan relaksasi KUR, dan asuransi pertanian.

Ketiga, melakukan perubahan teknologi dengan penggunaan biotek modem, climate smart, pertanian presisi, dan berorientasi prinsip berkelanjutan.

Keempat, menciptakan rantai nilai integrasi melalui suatu integrator, baik tokoh ataupun kelembagaan, yang mampu menyediakan solusi, menciptakan nilai, serta berani mengambil risiko; kelima, melakukan investasi untuk membangun SDM agar mampu melakukan perubahan seiring dengan perkembangan teknologi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertanian ketahanan pangan
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top