Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Setelah Indonesia Resesi, Ancaman Depresi Ekonomi Semakin Dekat?

Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2020 akan terkontraksi lebih dalam, pada kisaran -2,9 persen hingga -1,0 persen, sehingga pertumbuhan ekonomi akhir 2020 diperkirakan berkisar -1,7 persen hingga -0,6 persen.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 28 September 2020  |  11:06 WIB
Foto aerial kendaraan melintas di Simpang Susun Semanggi pada jam berangkat kerja di Jakarta, Senin (23/3/2020). Sejumlah ruas jalan utama tampak lebih lengang pada jam berangkat kerja. Hal ini karena sebagian perusahaan telah menerapkan bekerja dari rumah guna menekan penyebaran virus corona. Bisnis - Himawan L Nugraha
Foto aerial kendaraan melintas di Simpang Susun Semanggi pada jam berangkat kerja di Jakarta, Senin (23/3/2020). Sejumlah ruas jalan utama tampak lebih lengang pada jam berangkat kerja. Hal ini karena sebagian perusahaan telah menerapkan bekerja dari rumah guna menekan penyebaran virus corona. Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonomi Indonesia dipastikan akan mengalami kontraksi pada kuartal ketiga tahun ini. Artinya, Indonesia akan memasuki fase resesi ekonomi. Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2020 akan terkontraksi lebih dalam, pada kisaran -2,9 persen hingga -1,0 persen. 

Pemerintah pun memproyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini akan berada pada kisaran -1,7 persen hingga -0,6 persen. Sebelumnya, pertumbuhan ekonomi 2020 diperkirakan -1,1 persen, dengan batas atas masih positif 0,2 persen.

Sebagaimana diketahui, depresi ekonomi merupakan resesi yang terjadi selama lebih dari satu tahun. Depresi ekonomi terjadi jika kontraksi ekonomi terus berlanjut. Dampaknya pasti lebih besar dari resesi. Depresi pernah tercatat dalam sejarah, terjadi pada 1929-1934, di mana great depression berlangsung hingga 5 tahun.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan Indonesia dapat jatuh pada jurang depresi ekonomi bila resesi berlanjut hingga 2021.

"Semakin lama pandemi teratasi, semakin lemah daya beli masyarakat, dan semakin besar kelas menengah atas saving di bank untuk menghindari resiko," katanya kepada Bisnis, Senin (28/9/2020).

Bhima menjelaskan, salah satu indikator depresi adalah terjadi deflasi yang cukup dalam, di mana harga barang tidak naik melainkan menurun. Sementara, pada tahun ini, deflasi yang telah terjadi yakni pada bulan Juli tercatat deflasi -0,1 persen dan Agustus -0,05 persen.

Dia mengatakan, deflasi di tengah situasi resesi mengindikasikan sisi permintaan mengalami gangguan sehingga produsen dan pedagang tidak menaikkan harga justru menjual dengan harga diskon, khususnya bahan pangan.

Jika depresi terjadi, dampak yang akan ditimbulkan jauh lebih parah dari resesi. Tidak hanya pemutusan hubungan kerja (PHK) secara masal, tetapi juga akan terjadi kebangkrutan massal di sektor industri secara permanen. dan bukan temporer.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi deflasi Resesi covid-19
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top