Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekonomi di Ujung Resesi, Penerimaan Pajak Makin Suram

Proyeksi paling optimis penerimaan pajak tahun ini akan berada di angka minus 11 persen, sementara proyeksi paling pesimistis berada di kisaran minus 14 persen.
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 24 September 2020  |  14:22 WIB
Layanan di kantor pajak. - JIBI
Layanan di kantor pajak. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA - Tren memburuknya kinerja ekonomi tahun 2020 yang diproyeksikan di kisaran angka minus 1,7 persen - minus 0,6 persen turut mempengaruhi prospek penerimaan pajak tahun ini.

Dalam catatan Bisnis, proyeksi paling optimis penerimaan pajak tahun ini akan berada di angka minus 11 persen, sementara proyeksi paling pesimistis berada di kisaran minus 14 persen.

Pengamat pajak Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Fajry Akbar memaparkan bahwa indikasi pelebaran outlook penerimaan pajak itu bisa dilihat dari realisasi penerimaan pajak per Agustus kemarin.

Penerimaan pajak Agustus 2020 yang terkontraksi hingga 15 persen menunjukkan bahwa proses pemulihan ekonomi belum berjalan optimal. Sektor- sektor yang memiliki kontribusi ke penerimaan pajak paling besar justru semakin rontok.

"Proyeksi saya sih, untuk tahun ini pajak bisa -11 persen sampai -12 persen dari tahun lalu. Dengan asumsi kuartal IV/2020 kondisi membaik," kata Fajry kepada Bisnis yang dikutip, Kamis (24/9/2020).

Sektor manufaktur misalnya, dengan kontribusi ke penerimaan pajak hampir 30 persen pertumbuhannya terkontraksi hingga 16 persen. Sektor perdagangan juga mengalami nasib serupa yakni di kisaran minus 16,4 persen.

Selain itu, menurut Fajry, data penerimaan kemarin yang menkhawatirkan terlihat dari dua sektor, keuangan dan properti, selain transportasi. "Ini dampak pandemi ternyata begitu besar bagi kedua sektor ini, terlihat dari sektoral dan penerimaan PPh final yang trennya terus menurun month to month," jelasnya.

Adapun data APBN per Agustus 2018 menunjukkan hampir semua penerimaan pajak mengalami kontraksi dibandingkan tahun 2019. Penerimaan PPh migas tercatat minus 45,2 persen, PPh nonmigas minus 15,2 persen dan PPN minus 11,6 persen.

Sejauh ini outlook sementara penerimaan pajak versi pemerintah berada di kisaran minus 10 persen. Namun outlook penerimaan tersebut berpotensi kembali melebar seiring pengumuman terbaru terkait proyeksi ekonomi yang berpotensi tumbuh minus 1,7 persen sampai minus 0,6 persen.

Dalam catatan Bisnis, khusus tahun ini outlook penerimaan pajak yang beredar berada di minus 10 persen (versi pemerintah) - 14 persen atau dari kisaran Rp1.198,8 triliun – Rp1.146,13 triliun.

Jika skenario minus 10 persen yang terjadi dan dengan asumsi belanja serta komponen penerimaan di luar pajak sesuai ekpektasi pemerintah, maka defisit anggaran pada 2020 tetap di kisaran 6,34 persen dari produk domestik bruto.

Sebaliknya, jika skenario realisasi penerimaan pajak minus di level 14 persen dan asumsi belanja optimal serta penerimaan di luar pajak terealisasi, maka defisit pembiayaan APBN 2020 bisa saja di atas 6,34 persen. Tentunya angka ini tergantung dengan pencapaian atau kinerja anggaran sampai dengan tutup buku nanti.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Resesi penerimaan pajak
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top