Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Alamak! Pembeli Jepang Tak Akan Perpanjang Kontrak LNG Bontang, Kenapa?

Impor LNG Jepang turun 6,50 persen tahun ini seiring dengan pertumbuhan pembangkit listrik terbarukan, restart reaktor nuklir, dan dampak wabah Covid-19.
Zufrizal
Zufrizal - Bisnis.com 11 September 2020  |  16:55 WIB
Kapal pengangkut LNG. - Ilustrasi
Kapal pengangkut LNG. - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — Salah satu kesepakatan gas alam cair tertua di dunia mungkin akan berakhir seiring dengan berakhirnya kontrak jual beli. Pasalnya, pembeli menghadapi kelebihan pasokan dan ketidakpastian permintaan yang diperburuk oleh pandemi virus corona.

Perjanjian hampir 50 tahun untuk membeli bahan bakar dari terminal PT Pertamina Bontang di Indonesia akan berakhir pada akhir tahun ini.

Seseorang yang mengetahui masalah itu seperti dikutip www.rigzone.com dari Bloomberg, Kamis (10/9/2020), menyebutkan bahwa Kyushu Electric Power Co., salah satu dari enam perusahaan utilitas Jepang dalam konsorsium pembeli, tidak akan memperbarui kontraknya. Toho Gas Co. juga akan mengakhiri kontrak.

Akhir dari kesepakatan itu akan menggarisbawahi bagaimana kelebihan pasokan global dan harga spot yang terus-menerus rendah merusak perjanjian jangka panjang industri LNG.

Menurut International Group of Liquefied Natural Gas Importers, kesepakatan semacam itu turun menjadi 66 persen dari perdagangan LNG pada 2019 dibandingkan dengan 84 persen satu dekade sebelumnya,

Kesepakatan tersebut dapat ditelusuri kembali pada tahun 1973, ketika sekelompok perusahaan Jepang setuju untuk membeli LNG dari Bontang yang saat itu kilangnya belum dibangun.

Jaminan pembelian dari perusahaan-perusahaan Jepang membantu Indonesia mendapatkan pembiayaan dan meluncurkan pabrik ekspor pertamanya pada 1977. Beberapa pembeli menandatangani kesepakatan terpisah dengan kilang Bontang pada 1981.

Pada 2009, dengan kesepakatan yang hampir berakhir, Pertamina dan enam pembeli sepakat untuk menggabungkan mereka menjadi satu kesepakatan untuk membeli 3 juta ton per tahun hingga 2015 dan 2 juta ton hingga 2020, dengan harga 15,40 persen dari biaya minyak di Jepang.

Menurut data dari BloombergNEF, harga tersebut menjadikannya salah satu struktur harga termahal yang dimiliki Jepang.

Salah satu pembeli LNG Bontang, Osaka Gas Co., tahun lalu mencari arbitrase (pembelian dan penjualan secara simultan atas barang yang sama di dalam dua pasar atau lebih dengan harapan akan memperoleh laba dari perbedaan harganya) atas kontrak 20 tahun dengan harga yang sama dengan Exxon Mobil Corp. sebagai bagian dari upayanya untuk mencari biaya yang lebih rendah.

Impor LNG Jepang turun 6,50 persen tahun ini seiring denganpertumbuhan pembangkit listrik terbarukan, restart reaktor nuklir, dan dampak wabah Covid-19 yang mengurangi permintaan domestik untuk bahan bakar.

Pembeli Jepang dapat dipaksa untuk tidak memperpanjang kesepakatan yang akan berakhir pada tahun-tahun mendatang karena kerugian pada penjualan kembali di tengah harga spot yang didiskon.

Tidak semua pembeli global menyerah pada kesepakatan jual beli LNG jangka panjang, yang memiliki keuntungan mengamankan pasokan dengan harga tetap.

Total SA asal Prancis dan Sonatrach dari Aljazair pada Juni memperpanjang kontrak LNG yang dibuat pada 1972 yang akan berakhir untuk 3 tahun berikutnya.

Perjanjian berjangka juga makin murah. China Petroleum & Chemical Corp. (Sinopec), memberi kesepakatan pasokan 10 tahun ke Qatargas bulan ini dengan kaitan 10 persen—10,20 persen dengan harga minyak Brent.

Bloomberg menyatakan bahwa mereka sudah menghubungi seorang juru bicara Pertamina terkait jual beli LNG pembeli Jepang, tetapi panggilan telepon tidak direspons.

Kyushu Electric tidak memiliki rencana untuk memperbarui karena memiliki kelebihan pasokan, kata Hiroyuki Tsunetomi, seorang pejabat eksekutifnya, dalam wawancara telepon pada Selasa (8/9/2020).

Toho, menurut orang yang mengetahui hal tersebut, menginformasikan kepada Pertamina bahwa kontrak jual beli LNG Bontang tidak akan diperpanjang karena alasan harga yang lebih mahal. Namun, Seorang juru bicara Toho menolak berkomentar.

Adapun, , Juru Bicara Jera Co. Atsuo Sawaki. menuturkan bahwa perusahaan  sedang mempertimbangkan bagaimana mendapatkan volume yang diperlukan setelah kontrak berakhir pada akhir Desember mendatang.

Kansai Electric Power Co., Osaka Gas, dan Nippon Steel semuanya menolak berkomentar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lng Kilang Bontang
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top