Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Menanti Momentum Perbaikan Perusahaan Migas

Berdasarkan catatan Bisnis, dari 10 perusahaan migas global termasuk Pertamina, hanya Saudi Aramco yang masih mengantongi keuntungan sepanjang semester I/2020 sebesar US$6,6 miliar.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 04 September 2020  |  16:42 WIB
Platform offshore migas. Istimewa - SKK Migas
Platform offshore migas. Istimewa - SKK Migas

Bisnis.com. JAKARTA – Pulihnya perekonomian global menjadi aspek menuju keberhasilan perusahaan energi untuk memperbaiki kinerja operasional dan finansial setelah dihantam pandemi virus corona atau Covid-19.  

Widhyawan Prawiraatmadja, Gubernur Indonesia untuk OPEC periode 2015-2016, mengatakan pergerakan harga minyak maupun penurunan permintaan minyak akibat pandemi Covid-19 memberikan tekanan sangat signifikan terhadap keuangan dan operasional perusahaan energi nasional dan juga internasional, khususnya yang memiliki bisnis utama di minyak dan gas bumi.

Berdasarkan catatan Bisnis, dari 10 perusahaan migas global termasuk Pertamina, hanya Saudi Aramco yang masih mengantongi keuntungan sepanjang semester I/2020 sebesar US$6,6 miliar.

Selain itu, sederet perusahaan migas global seperti ExxonMobil, Chevron, ConocoPhillips, Total, Shell, Petrobras, BP, dan ENI kompak mencatatkan kerugian.

Adapun, ExxonMobil mencatatkan kerugian US$1,3 miliar atau Rp18,54 triliun, BP merugi US$6,7 miliar atau Rp95,57 triliun, Total merugi US$8,4 miliar atau Rp119,82 triliun, sedangkan Shell merugi paling besar yakni US$18,4 miliar atau setara Rp262,47 triliun.

Selanjutnya, Chevron merugi US$4,67 miliar, Petrobras merugi US$10,13 miliar, dan ENI dengan rugian 7,33 juta euro.

Kendati mengantongi kinerja positif, Aramco juga terpaksan menunda sejumlah proyek. Saudi Aramco menunda proyek-proyek petrokimia dan gas bernilai miliaran dolar Amerika Serikat untuk mempertahankan dividen dengan mengurangi investasi besar.

Aramco punya rencana membangun fasilitas pengolahan minyak mentah menjadi bahan kimia senilai US$20 miliar di Yanbu. Selain itu, seperti dilansir Bloomberg, Aramco juga meninjau keputusan untuk membeli 25 persen terminal gas alam cair (LNG) Sempra Energy di Texas yang akan menilai biaya beberapa miliar dolar AS.

Tidak hanya itu, Aramco menangguhkan kesepakatan untuk membangun kilang minyak dan kompleks petrokimia senilai US$10 miliar di China karena perusahaan itu memangkas pengeluaran untuk mengatasi harga minyak yang rendah.

Sebelumnya, Aramco, menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut,seperti dikutip Bloomberg, memutuskan untuk berhenti berinvestasi pada fasilitas di provinsi timur laut China, Liaoning setelah bernegosiasi dengan mitranya di China. Prospek pasar yang tidak pasti berada di balik keputusan tersebut.

Terkait kondisi perusahaan migas global, Widhyawan memperkirakan penurunan net income perusahaan tersebut hampir mendekati US$100 miliar. "Total penurunan net income dari seluruh perusahaan tersebut mencapai minus US$90 miliar," ujar Widhyawan Prawiraatmadja, dalam keterangan tertulis.

Menurutnya, hal yang sama dirasakan oleh perusahaan energi di Indonesia, salah satunya Pertamina, yang ikut terguncang pada semester I/2020.

Namun demikian, Widhyawan optimistis melihat angin segar yang dapat dilihat dalam Laporan Keuangan Pertamina laba operasi Juni 2020 sebesar US$443 juta dan EBITDA sebesar US$2,61 miliar.

Selain itu, aktivitas ekonomi yang mulai berjalan juga mendorong peningkatan konsumsi BBM dalam negeri.

"Pertamina perlu menjaga kondisi keuangan agar tetap dapat bertahan menyediakan energi secara berkelanjutan untuk menopang pemulihan ekonomi Indonesia yang terdampak Covid-19," tambahnya.

Di sisi lain, Wakil Menteri ESDM periode 2014 – 2019 Arcandra Tahar mengatakan prospek industri migas ke depan ditentukan cepatnya pemulihan pandemi virus corona. Menurutnya, wajar perusahaan migas melakukan restrukturisasi dan evaluasi atas rencana bisnis dan investasinya.

“Situasi ini terjadi bukan karena sektor migas tidak menarik lagi atau system yang ditawarkan sebuah Negara jelek. Namun, dalam situasi krisis perusahaan migas akan pragmatis dan realistis,” ungkapnya dalam unggahan instagram.

Evaluasi bisnis juga dilakukan oleh PT Medco Energi Internasional Tbk. Perusahaan migas nasional ini berusaha menjaga likuiditas dan neraca keuangan tetap sehat di tengah banyaknya tantangan bisnis akibat Covid-19.

CEO Medco Energi Roberto Lorato mengatakan bahwa tahun ini akan diingat atas terjadinya penyebaran Covid-19 secara global dan jatuhnya harga minyak maupun permintaan pasar yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Akibat sentimen tersebut, Medco membukukan rugi bersih US$19,97 juta pada kuartal I/2020. Nilai itu berbalik dari sebelumnya laba bersih US$28,05 juta pada kuartal I/2019. Padahal, pendapatan berhasil naik 1,99 persen yoy menjadi US$289,57 juta dari sebesar US$283,91 juta pada kuartal I/2019.

Perseroan pun mengaku telah melakukan beberapa inisiatif untuk menjaga neraca keuangan sekaligus menerapkan protokol ketat untuk memastikan kesehatan dan keselamatan pekerja.

“[Perseroan] melakukan penangguhan dan efisiensi pengeluaran sebesar lebih dari US$200 juta untuk menjaga kas dan mendukung neraca keuangan perseroan. Meskipun harus melakukan pengurangan program belanja modal, saya senang atas keberhasilan kedua temuan eksplorasi kami di Natuna dan Ijen,” ujar Roberto seperti dikutip dari keterangan resminya, Kamis (27/8/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertamina migas medco
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top