Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sritex, RUM dan Isu Lingkungan

Masalah bau limbah PT Rayon Utama Makmur (RUM) terus bergulir tanpa titik temu. Sementara itu, perusahaan dan Sritex - yang diketahui berafiliasi dengan PT RUM - tidak banyak memberikan komentar dan mengaku bahwa emisi pabrik sesuai dengan standar lingkungan.
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 11 Agustus 2020  |  20:48 WIB
Warga dan mahasiswa melakukan unjuk rasa menuntut penutupan PT Rayon Utama Makmur (RUM) di Desa Plesan, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (23/2/2018). - JIBI/Dwi Prasetya
Warga dan mahasiswa melakukan unjuk rasa menuntut penutupan PT Rayon Utama Makmur (RUM) di Desa Plesan, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (23/2/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Problem bau limbah PT Rayon Utama Makmur (RUM) terus berlanjut. Warga masih menanti janji perusahaan untuk meredam bau limbah yang telah menjadi isu lingkungan di sekitar Desa Plesan, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah sejak awal 2018 lalu.

Bau tersebut sempat diklaim berkurang. Namun, PT RUM diduga kembali mengeluarkan bau limbah pengolahan pada Oktober 2019.

Kejadian ini kemudian memicu warga di sejumlah desa untuk kembali turun ke jalan pada Desember 2019. Warga meminta PT RUM segera merealisasikan janjinya menyediakan H2SO4 recovery atau kembali berhenti berproduksi supaya bau limbah tak lagi mengganggu warga.

Namun, perwakilan warga Tomo mengklaim perusahaan belum memasang fasilitas H2SO4 tersebut. “Persoalannya sampai sekarang masih kena dampak dari gas tersebut. Padahal kesepakatannya 18 bulan harus bisa menyelesaikan ini,” ujar Tomo. 

Penelusuran jejak limbah PT RUM ini cukup panjang dan melibatkan nama produsen tekstil dan produk tekstil papan atas, PT Sri Rejeki Isman Tbk. atau Sritex.

PT Sri Rejeki Isman Tbk. yang diketahui bersangkutan dengan PT RUM cenderung berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan.

Dalam penelusuran Bisnis, Sri Rejeki Isman memang tidak mencantumkan RUM sebagai anak usaha. Namun, keberadaan RUM tidak lepas dari pengembangan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Sritex. Laporan Keuangan Sritex tahun 2014 - 2018 mengungkap relasi antara Sritex, keluarga Lukminto dengan RUM.

Dalam laporan keuangan tahun 2014, misalnya, SRIL secara khusus menjelaskan bahwa pembangunan PT RUM dimaksudkan untuk memperkuat suplai bahan baku serat rayon produksi pemintalan SRIL.

Bagaimana kiprah bisnis PT RUM?

RUM diketahui mulai memproduksi serat rayon sejak tahun 2017. Bahan baku serat rayon adalah pulp atau bubur kertas jenis dissolving grade. Jenis bubur kertas merupakan bahan baku serat rayon. Bahan baku utama yang digunakan menopang segmen pemintalan Sritex. 

Perusahaan ini ditargetkan memproduksi 80.000 ton serat rayon untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Namun alih-alih mengurangi impor, kebutuhan bahan baku, dissolving grade, RUM sangat tergantung dari suplai barang dari luar negeri. Pihak RUM mengimpor bahan baku dari beberapa negara seperti Austria, Brazil, hingga Kanada.

Data Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) mencatat dalam kurun 2017 - 2018 total impor dissolving grade RUM dengan kode harmonized system (HS) 47020000 mencapai 21.971,5 ton senilai US$20,7 juta. Jumlah ini terdiri atas 12.119,7 ton atau senilai US$11,7 ton pada 2017 dan pada 2018 sebanyak 9.851,8 ton (US$9,03 juta).

RUM menegaskan impor terpaksa dilakukan, karena jenis pulp dalam negeri tak sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan perusahaan.

"Bahan ini yang kemudian diolah menjadi serat rayon," kata Sekretaris PT RUM Bintoro Dibyoseputro akhir Februari.

SRIL diketahui mulai membeli serat rayon dari RUM senilai US$2,15 juta pada 2017. Nilai transaksi pembelian serat rayon RUM oleh Sritex tercatat naik pada 2018. Total transaksi pembelian SRIL atas bahan baku serat rayon dari RUM pada waktu itu senilai US$2,64 juta atau sekitar Rp36,9 miliar.

Transaksi pembelian antara PT Rayon Utama Makmur (RUM) dan PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) naik cukup signifikan pada tahun 2019 mencapai US$10,08 juta atau naik hampir empat kali lipat dibandingkan tahun 2018 yang mencapai US$2,6 juta.

Padahal pengakuan manajemen PT RUM, perusahaan belum beroperasi optimal lantaran terganjal persoalan lingkungan (bau limbah hasil produksi).

Bintoro tak menampik sebagian besar serat rayon produksi PT RUM masuk ke Sritex. Serat rayon yang diproduksi RUM tidak hanya digunakan untuk segmen garmen, tetapi juga digunakan untuk mendukung produksi tekstil dan produk tekstil (TPT) Sritex, khususnya segmen pemintalan.

“Serat rayon RUM tidak hanya untuk garmen, tetapi TPT-nya Sritex,” imbuh Bintoro.

Segmen pemintalan merupakan salah satu lini bisnis utama Sritex. Pada tahun 2018, Sritex memproduksi benang sebanyak 1.002.536 bal, meningkat 55,32 persen dari produksi 2017 sebesar 645.475 bal. Benang rayon mendominasi produksi benang Sritex.

Namun demikian, Bintoro membantah jika serat rayon yang diproduksi RUM hanya disalurkan ke Sritex. Bintoro menyebut, sebagai perusahaan yang terpisah, RUM tak terikait dengan siapapun dan bebas menjual serat rayon ke semua perusahaan pemintalan.

“Bukan Sritex saja, ada 12 perusahaan,” tegas Bintoro.

Berbeda dengan Bintoro, seorang pejabat di lingkungan RUM, yang ditemui Februari 2020 justru mengungkap fakta lainnya. Pejabat itu tak membantah pernyataan yang disampaikan oleh Bintoro.

Namun menurutnya, serat rayon RUM memang diprioritaskan untuk kebutuhan bahan baku group (Sritex). Salah satunya dikirim ke PT Sinar Pantja Djaja (SPD), anak usaha Sritex di segmen pemintalan, yang berlokasi di Semarang.

“Diserap lingkup usaha Sritex, di Solo dan Jawa Tengah. Ini ada Sari Warna [PT Sari Warna Asli Textile Industry], ada SPD yang harus disuplai bahan baku. Mereka mandiri-mandiri, tetapi tetap terafiliasi,” jelasnya.

Sritex diketahui memiliki tiga anak usaha di segmen pemintalan. Ketiganya adalah PT Sinar Pantja Djaja (SPD), PT Primayudha Mandirijaya, dan PT Britatex Industries berlokasi di Jawa Tengah khususnya Semarang dan Boyolali.

Selain tiga perusahaan tersebut, Sritex terafiliasi dengan PT Sari Warna Asli Textile Industry, perusahaan pemintalan yang juga dikendalikan keluarga Lukminto. Menariknya pada tahun 2017 - 2018, tepat setelah RUM beroperasi, Sritex menjual serat rayon ke PT Sari Warna Asli Textile Industry.

Total transaksi penjualan jika digabungkan benang, kain greige dan kain jadi senilai US$32,4 juta pada 2017 dan US$29,9 juta pada 2018.

Transaksi penjualan serat rayon ini sebelumnya tak tercantum pada 2016. Selain itu jika dibandingkan tahun 2015, angka transaksi penjualan antara Sritex dan Sari Warna melonjak cukup signifikan.

Bisnis berupaya mengonfirmasi aliran rayon RUM ke pihak SPD dengan mendatangi lokasi pabrik di Kota Semarang. Namun demikian, anak usaha dari Sritex tersebut menolak untuk memberikan statemen terkait afiliasi mereka baik dengan Sritex maupun RUM.

Secara terpisah, Kepala Komunikasi Perusahaan PT Sri Rejeki Isman Tbk. Joy Citradewi kembali menegaskan bahwa SRIL sama sekali tak ada kaitannya dengan RUM. SRIL juga menolak dikait-kaitkan dengan skandal yang menjerat RUM saat ini.

Kendati demikian, dia mengakui bahwa RUM dan Sritex memang terafiliasi. Joy juga membenarkan bahwa serat rayon produksi RUM diserap SRIL untuk kebutuhan produksi TPT.

‘Saya hanya bisa mengonfirmasi bahwa salah satu supplier RUM adala benar, dilakukan at arm’s length," jelasnya.

Sementara terkait dengan skandal limbah yang kini menjerat TP RUM, pihak SRIL mengaku terus berkomunikasi dengan pihak RUM sebagai penyuplai bahan baku SRIL. Joy juga menegaskan meski SRIL menggunakan bahan baku dari perusahaan yang sedang terlilit persoalan lingkungan, namun dia memastikan bahwa itu sesuai dengan standar.

"Kami berpegang pada fakta bahwa dari sisi emisi sudah sesuai dengan ketentuan dari lingkungan hidup,” tukasnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tekstil limbah sritex
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top