Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tak Perlu "Lebay" Soal Resesi, Ini yang Paling Penting Menurut Para Ekonom

Sejumlah ekonom tak menampik bahwa perekonomian Indonesia dalam posisi yang berat dan bahkan ekonomi pada 2020 dinilai secara teknikal telah telah memasuki resesi. Pasalnya, untuk tumbuh positif atau berada di level 0% dibutuhkan pertumbuhan yang cukup tinggi.
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 05 Agustus 2020  |  21:15 WIB
Kendaraan melintas di kawasan Simpang Susun Semanggi saat diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta, Senin (13/4/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha
Kendaraan melintas di kawasan Simpang Susun Semanggi saat diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta, Senin (13/4/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Kinerja ekonomi pada kuartal II/2020 tercatat terkontraksi hingga 5,32% atau berada di luar ekspektasi pemerintah.

Sejumlah ekonom tak menampik bahwa perekonomian Indonesia dalam posisi yang berat dan bahkan ekonomi pada 2020 dinilai secara teknikal telah telah memasuki resesi. Pasalnya, untuk tumbuh positif atau berada di level 0% dibutuhkan pertumbuhan yang cukup tinggi.

Ekonom Institut Kajian Strategis (IKS) Eric Alexander Sugandi mengatakan terlepas apakah pertumbuhan positif atau negatif tahun ini, yang penting pemerintah mesti all out untuk membangkitkan sisi permintaan. Dorongan dari sisi fiskal dan moneter dibutuhkan agar Indonesia bisa lebih cepat keluar dari lobang resesi.

"Sekarang sudah tidak ada gunanya diskusi tentang bagaimama mencegah resesi. Yang lebih penting adalah bagaimana keluar dari resesi," kata Eric, Rabu (5/8/2020).

Terpisah, Ekonom Bank Permata Josua Pardede berpendapat, perkembangan data pada Juli belum cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan positif pada kuartal III.

Menurut Josua, ketika kuartal II dan III sudah mengalami pertumbuhan negatif, maka artinya perekonomian Indonesia sudah mengalami resesi. "Jadi kalau mau terhindar dari resesi seperti halnya Tiongkok, pertumbuhan kuartal III mesti positif," katanya. 

Adapun, hasil perhitungan sementara model ekonomi, pertumbuhan tahun 2020 berpotensi negatif dan resesi menjadi tidak terhindarkan. "Karena sekalipun kuartal IV sudah positif pertumbuhannya, namun positif kecil dan tidak dapat menutupi pertumbuhan negatif pada kuartal II dan III," paparnya.

Di sisi lain, pengajar ekonomi Universitas Diponegoro Wahyu Widodo juga memproyeksikan bahwa ekonomi masih akan kontraksi pada kuartal III/2020.

"Saat ini sudah bulan Agustus dan Covid-19 belum menunjukkan pelambatan, malah arahnya justru meningkat lagi di daerah-daerah pusat kegiatan ekonomi, katakanlah Jawa. Jadi kuartal II/2020 ini sebenarnya gerbang menuju resesi. Tapi ini sebenarnya sudah terprediksi, karena gejalanya kan sudah jelas. Jadi sekarang yang paling penting bagaimana menahan laju resesinya," ujarnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi resesi pemulihan ekonomi
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top