Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tidak Melulu Soal Situasi Politik, Investor Migas Juga Utamakan Profit

Kabar hengkangnya Shell dan Chevron dalam proyek migas nasional tidak melulu bicara soal kondisi politik, tetapi juga soal profit investasi.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 01 Agustus 2020  |  09:20 WIB
Platform offshore migas. Istimewa - SKK Migas
Platform offshore migas. Istimewa - SKK Migas

Bisnis.com, JAKARTA - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) periode 2014 - 2019 Arcandra Tahar angkat bicara terkait dengan kondisi investasi di hulu migas.

Dia berpendapat, investasi di hulu minyak dan gas bumi tidak melulu soal keadaan politik di suatu negara dan tidak mengenal negara mana yang paling cocok untuk berinvestasi.

Menurut dia, mayoritas investor akan masuk ke dalam proyek migas yang dinilai bisa memberikan profit yang baik bagi perusahaan.

"Investasi tidak mengenal kewarganegaraan, artinya di mana ada investasi yang menguntungkan dia akan masuk," katanya dalam diskusi daring, belum lama ini.

Merujuk pada kabar hengkangnya Shell dari proyek Blok Masela, Chevron pada proyek Indonesia Deep Water Development (IDD), Arcandra mengatakan banyak faktor yang bisa membuat keputusan sikap dalam sebuah investasi.

Secara komprehensif, kata Arcandra, keputusan itu bisa dipengaruhi oleh bergesernya fokus perusahaan-perusahan tersebut yang berkaitan dengan nilai keekonomian yang dipengaruhi oleh harga minyak dunia.

Selain itu, mundurnya dengan adanya perusahaan migas global dari proyek di Indonesia tidak bisa dijadikan acuan bahwa kondisi invesitasi di Indonesia tidak baik.

"Coba lihat aset-aset mereka di luar negeri dijual tidak? Saya rasa iya, artinya apa, kalau kita hanya melihat dari satu sisi mungkin iklim investasi yang tidak oke, kalau saya melihat lebih komprehensif," jelasnya.

Kedua perusahaan migas kelas dunia itu menyatakan untuk merubahan portofolio investasinya di sektor hulu migas di dunia, termasuk proyek-proyeknya yang ada di Indonesia.

Sebelumnya, baru-baru ini Shell memberikan sinyalnya untuk melepas keterlibatannya dalam proyek strategis nasional yakni Lapangan Abadi di Blok Masela.

Setali tiga uang dengan Proyek Lapangan Abadi Blok Masela yang dikelola Inpex dan Shell, proyek strategis nasional IDD hingga saat ini juga masih terkatung-katung.

Chevron selaku operator dalam proyek tersebut telah memberikan sinyal untuk melepas keikutsertaannya.

Kepada Bisnis, Cameron Van Ast, External Affairs Advisor, Chevron Asia Pacific mengatakan bahwa pihaknya memberikan sinyal untuk melepas keikutsertaannya pada proyek IDD.

Dia mengungkapkan, rencana itu telah dikaji sejak awal tahun ini dan dia menampik bahwa keputusan itu berkaitan dengan akuisisi Chevron pada saham Noble Energy baru-baru ini.

Sebelumnya, pada 20 Juli 2020, Chevron Corporation mengakuisisi seluruh saham Noble Energy dengan nilai akuisisi senilai US$5 miliar atau US$10,38 per saham.

"Potensi penjualan minat kami pada IDD tidak berhubungan dengan keputusan kami pada pekan lalu terkait dengan perjanjian akuisisi Noble Energy. Kami mengumumkan niat kami untuk menemukan operator baru untuk IDD pad Januari tahun ini," katanya kepada Bisnis, Jumat (24/7/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi migas chevron shell Arcandra Tahar
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top