Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Resesi Global, Pemerintah dan Operator Pelabuhan Diminta Realistis

Namarin meminta agar pemerintah dan operator pelabuhan bersikap realistis karena hingga akhir tahun ini kinerja arus ekspor pelabuhan masih kelam akibat resesi global.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 23 Juli 2020  |  21:49 WIB
Sejumlah truk membawa muatan peti kemas di Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (17/2/2020). - ANTARA / M Risyal Hidayat
Sejumlah truk membawa muatan peti kemas di Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (17/2/2020). - ANTARA / M Risyal Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – The National Maritim Institute (Namarin) mengharapkan pemerintah dan operator pelabuhan bersikap realistis atas aksi penyelamatan ekspor ketimbang membangun optimisme semu terhadap kinerja kepelabuhanan.

Pengamat dari The National Maritim Institute Siswanto Rusdi memperkirakan hingga akhir tahun ini kinerja arus ekspor pelabuhan masih kelam karena dihantui tidak hanya disebabkan pandemi global, tetapi juga resesi global dan pelemahan daya beli. Ungkapan optimisme yang dilontarkan sejumlah operator dinilai menjadi tidak relevan pada saat ini.

“Ini dunia sudah masuk fase resesi ini dulu dibenahi jangan membangun optimisme tidak beralasan. Jangan mewacanakan ekspor kita naik. Kalaupun naik bisa jadi kontrak ekspor yang ditandatangani sebelum Covid, yang masa sekarang ini perlu kita kritisi bagaimana,” ujarnya, Kamis (23/7/2020).

Menurutnya bisa saja kinerja ekspor yang lebih baik dari prediksi semula karena banyak kontrak yang ditandatangani sebelum pandemi baru dapat terealisasikan. Di sisi lain, peningkatan arus peti kemas belum tentu sejalan dengan kuantitasnya, karena banyak peti kemas yang muatannya tidak penuh.

Siswanto menekankan penting bagi pemerintah bersama operator saat ini agar segera melakukan pendataan pembatalan ekspor yang dilakukan pembeli internasional dan kembali meninjau kontrak yang dilaksanakan setelah pandemi. Salah satunya melakukan renegosiasi dengan pembeli agar jangan sampai membatalkan kontrak.

“Mungkin perlu juga renegosiasi terpaksa jangan membatalkan bisa mengurangi kuantitas atau memberikan harga baru yang penting yang diproduksi dalam negeri ada yang menyerap keluar ini upaya penyelamatan nggak bicara lagi untuk mencari margin. Industri tetap produksi dan diserap luar itu yang terbaik yang dilakukan,” tekannya.

Dia meyakini langkah mencari substitusi negara hub di luar Singapura juga bukanlah ide terbaik sebab negara-negara lain juga sama-sama tengah mengantisipasi resesi.

Siswanto juga berpendapat saat ini operator pelabuhan juga harus memicu pertumbuhan dalam negeri atau supaya tidak hanya berorientasi ekspor. Perdagangan antar pulau akan meningkatkan konsumsi tetapi juga menghindari produksi yang berlebih.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor pelabuhan
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top