Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penerbangan Masih Sepi, Aerofood ACS Bidik Sektor Industrial

Aerofood ACS mengalihkan fokus pasarnya dari yang semula jasa boga penerbangan ke sektor industrial sembari menunggu perekonomian pulih dari pandemi Covid-19.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 23 Juli 2020  |  20:21 WIB
Suasana sepi terlihat di Terminal IA Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (24/4/2020).  Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Suasana sepi terlihat di Terminal IA Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (24/4/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Aerofood ACS berencana memaksimalkan potensi produk makanan sehat secara ritel, serta memperbesar pangsa pasar layanan jasa boga untuk industri seiring dengan kondisi sektor penerbangan yang belum pulih.

Direktur Utama Aerofood ACS Sis Handaya mengatakan industri penerbangan dan tentunya penyedia layanan jasa boga penerbangan (inflight catering) mengalami penurunan yang sangat drastis. Di Indonesia, jumlah penumpang penerbangan terus anjlok sejak pemerintah mengumumkan pandemi Covid-19 pada Maret 2020.

Jumlah penerbangan, paparnya, berkurang sampai dengan 84 persen dari rata-rata 730 penerbangan sehari pada Januari 2020 menjadi rata-rata 100 penerbangan. Kondisi itu pun didominasi oleh penerbangan kargo semenjak diberlakukannya pembatasan sosial di berbagai wilayah maupun negara.

“Atas kondisi tersebut tentunya kami perlu melakukan strategi lain untuk tetap bertahan melangsungkan kegiatan usahanya yaitu dengan mengembangkan penjualan produk makanan sehat secara retail dan meningkatkan layanan untuk industrial catering yang telah dirintis sebelumnya,” jelasnya, Kamis (23/7/2020).

Pihaknya memang telah melakukan diversifikasi dengan menyediakan layanan industrial catering pada 2002. Layanan industri ini memiliki pangsa pasar rumah sakit, pabrik, sekolah, learning center, dan perusahaan minyak bumi, gas, dan pertambangan.

Tak hanya itu, sejumlah strategi bertahan hidup juga dilakukan dengan menyesuaikan jumlah tenaga kerja berdasarkan tingkat produksi atau mengoptimalkan karyawan tetap. Perusahaan juga telah menyampaikan rencana pembayaran kepada mitra usaha yang masih terutang.

Sejauh ini, kata dia, untuk dapat terus melangsungkan kegiatan usaha penyediaan dan pelayanan inflight catering perusahaan telah mengimplementasikan Hazard Analitical Critical Control Point (HACCP) yang diintegrasikan dengan sistem manajemen mutu ISO dan Halal.

Perusahaan juga telah menyesuaikan sejumlah prosedur dalam layanan jasa boga penerbangan sesuai dengan Gugus Tugas Pencegahan dan Penanggulangan Wabah Covid-19, di antaranya dengan menyusun dan mengimplementasikan protokol kesehatan terkait bekerja, aktivitas produksi, operasional dan pelayanan, penanganan karyawan terjangkit dan lainnya.

Kemudian juga memonitor dan mengevaluasi implementasi protokol-protokol yang ditetapkan dan melakukan penyesuaian prosedur aktivitas setiap tahapan produksi dan pengiriman.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Garuda Indonesia maskapai penerbangan
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top