Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tekan Rugi Operasional, Maskapai Disarankan Terbang dengan Okupansi Maksimal

Pemerhati penerbangan Alvin Lie meyakini maskapai yang tidak berhitung dengan cermat pada masa pandemi ini, tak akan mampu mampu bertahan.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 12 Juli 2020  |  17:56 WIB
Sejumlah pesawat terpakir di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (24/4/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Sejumlah pesawat terpakir di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (24/4/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Maskapai nasional disarankan menyesuaikan lebih dulu jumlah penumpang dan baru memutuskan terbang ketika tingkat okupansi maksimal telah tercapai guna menekan kerugian operasional.

Pemerhati penerbangan yang juga anggota Ombudsman Alvin Lie mengatakan rendahnya tingkat okupansi membuat daya tahan maskapai semakin rentan selama jangka panjang.

Menurutnya jika dalam waktu dekat tidak ada tanda-tanda perbaikan maka hanya ada dua opsi yang dapat ditempuh maskapai yakni kembali menyusutkan operasionalnya atau berhenti beroperasi sama sekali. Mengingat, kata Alvin, Jadwal penerbangan domestik juga sudah tidak regular.

“Maskapai lebih baik tidak setiap hari terbang. Lebih baik mengumpulkan dulu penumpang yang sudah ada baru terbang daripada dipaksakan terbang tapi penumpang hanya sepuluh dua puluh orang. Sehingga ini perlu cermat teliti dan cerdas mengatur agar penumpang terkumpul baru diterbangkan,” jelasnya, Minggu (12/7/2020).

Alvin meyakini maskapai yang tidak berhitung dengan cermat pada masa pandemi ini, tak akan mampu mampu bertahan.

“Maskapai Indonesia belum ada yang gulung tikar. Ini sebenarnya sudah luar biasa mukjizat tidak lepas dari kuatnya maskapai domestik,” imbuhnya.

Pasalnya, Alvin menjelaskan pukulan berat menghantam maskapai yang selama ini mengandalkan rute internasional. Pasalnya dia memperkirakan hingga 2021 penerbangan lintas negara akan semakin ketat dan nyaris tak ada penumpang kecuali untuk penerbangan repatriasi.

Alvin menuturkan pembukaan kembali perbatasan di sejumlah negara mayoritas masih dilakukan untuk rute domestik. Alhasil belum akan banyak masyarakat yang terbang dengan tujuan melawat ke negara lainnya.

Selain itu, Alvin menilai dalam kondisi saat ini maskapai juga tidak mungkin mengembalikan pesawat yang telah disewa karena di seluruh dunia masih banyak pesawat yang menganggur.

Opsi terbesarnya adalah meminta perusahaan leasing untuk memberikan tarif diskon. Namun, maskapai pun juga akan menyusutkan operasional pesawat berbadan besar seperti AirBus 330 dan Boeing 737.

“Pesawat jet jumbo tersebut akan mengalami penyusutan operasional karena tidak terlalu dirasakan manfaatnya dalam mengangkut penumpang dalam jumlah besar pada saat pandemi ini. Yang menghidupi airlines adalah penerbangan domestik,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

penerbangan industri penerbangan maskapai penerbangan
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top