Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Hingga Mei 2020, Realisasi Penyaluran BBM Subsidi Rendah

BPH Migas melaporkan penyaluran BBM subsidi hingga Mei 2020 rendah sejalan dengan kondisi konsumsi masyarakat cenderung menurun karena adanya pandemi.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 07 Juli 2020  |  16:08 WIB
Aktifitas pengisian truk tangki untuk distribusi bahan bakar minyak (BBM) di Depo BBM Pertamina di Plumpang, Jakarta, Senin (4/5/2020). Bisnis - Dedi Gunawan
Aktifitas pengisian truk tangki untuk distribusi bahan bakar minyak (BBM) di Depo BBM Pertamina di Plumpang, Jakarta, Senin (4/5/2020). Bisnis - Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat realisasi penyaluran bahan bakar minyak (BBM) subsidi hingga Mei 2020 lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu.

Berdasarkan Nota Keuangan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020, kuota penyaluran sebanyak 15,87 juta kl terbagi atas minyak solar 15,31 juta kl dan minyak tanah sebesar 0,56 juta kl. Adapun kuota JBT mengalami kenaikan sebesar 5,03 persen dari kuota BBM 2019 sebanyak 15,11 juta kl.

Berdasarkan data BPH Migas per Mei 2020, realisasi jenis BBM tertentu (JBT) yang disalurkan oleh Pertamina dan AKR jenis solar adalah 5,6 juta kiloliter (KL). Sementara itu, untuk JBT jenis minyak tanah sepanjang Januari--Mei 2020 sudah tersalurkan sebanyak 195.500 KL.

Direktur Bahan Bakar Minyak BPH Migas Alfons Simanjuntak mengatakan bahwa mengacu pada kuota BBM subsidi pada tahun ini diproyeksikan tidak akan mencapai batasnya. Pasalnya, pada tahun ini kondisi konsumsi masyarakat terhadap produk BBM cenderung menurun karena adanya pandemi.

"Prognosa kami biosolar over, namun kerosene dan JBKP under," katanya kepada Bisnis.com, Senin (6/7/2020).

Sebelumnya, Alfon mengatakan bahwa pada penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) membuat tren konsumsi BBM menurun. Namun, pada kondisi new normal akan membuat konsumsi BBM akan lebih meningkat dibangingkan dengan pada saat penerapan PSBB.

"Namun jika dibandingkan dengan rerata normal sebelum ada pandemi Covid-19 tentu tetap angkanya di bawah," jelasnya.

Adapun, Pemerintah memproyeksikan volume BBM bersubsidi dan LPG 3 kg akan stagnan pada tahun depan.

Dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun 2021 yang dipaparkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) volume minyak tanah diasumsikan mencapai 480.000 kl--500.000 kl atau lebih rendah dari APBN pada 2020 sebesar 560.000 kl.

Sementara itu, volume minyak solar dalam RAPBN 2021 berjumlah 15,31 juta kl--15,80 juta kl, asumsi itu tercatat stagnan jika dibandingkan dengan APBN 2020 yakni 15,31 juta kl.

Hingga akhir tahun nanti, volume solar diproyeksikan hanya menyentuh 14,37 juta kl. Adapun, untuk volume liquefied petroleum gas (LPG) juga diasumsikan stagnan dalam RAPBN 2021 dengan volume sebesar 7 juta metrik ton (Mton).

Dalam APBN 2020, volume LPG 3 kg diasumsikan sebesar 7 juta Mton. Hingga Mei 2020, realisasi volume LPG 3 kg mencapai 2,9 juta Mton yang hingga akhir tahun nanti diproyeksikan hanya menyentuh 6,89 juta Mton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bph migas BBM
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top