Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Namarin : Rencana Bakamla Dirikan IMIC Berpotensi Ganggu Diplomasi

The National Maritime Institute (Namarin) menyayangkan pernyataan Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI Aan Kurnia yang berencana mendirikan Indonesia Maritime Information Center (IMIC). Hal itu karena berpotensi mengganggu diplomasi.
Puput Ady Sukarno
Puput Ady Sukarno - Bisnis.com 28 Juni 2020  |  23:00 WIB
Badan Keamanan Laut (Bakamla) - Ilustrasi/setkab.go.id
Badan Keamanan Laut (Bakamla) - Ilustrasi/setkab.go.id

Bisnis.com, JAKARTA - The National Maritime Institute (Namarin) menyayangkan pernyataan Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI Aan Kurnia, yang berencana mendirikan pusat informasi keamanan maritim Indonesia Maritime Information Center (IMIC).

Direktur The National Maritime Institute (Namarin), Siswanto Rusdi menyayangkan pernyataan tersebut lantaran alasan yang digunakan adalah untuk mengimbangi pemberitaan kemaritiman yang selama ini dikeluarkan oleh International Maritime Bureau, Information Fusion Center dan Regional Cooperation Agreement on Combating Piracy and Armed Robbery against Ships in Asia yang tidak proprosional.

“Pernyataan Pak Aan amat sangat disayangkan. Seharusnya, dia bisa memilih diksi yang lebih baik, bukan sekadar menyudutkan lembaga-lembaga itu,” kata Siswanto, Minggu (28/6/2020).

Menurutnya, seharusnya Bakamla bisa memilih diksi yang lebih baik, bukan hanya menyudutkan lembaga-lembaga tersebut (International Maritime Bureau, Information Fusion Center dan Regional Cooperation Agreement on Combating Piracy and Armed Robbery against Ships in Asia) lantaran dinilai cenderung merugikan Indonesia.

Siswanto Rusdi menerangkan bahwa dalam mempublikasikan informasi seputar gangguan keamanan maritim (pencurian, perompakan, dll) yang terjadi di kawasan Asia Tenggara dan menyangkut Indonesia – lokasi kejadian, pelaku, target/korban – ketiga lembaga tersebut sebetulnya sudah melakukan konfirmasi kepada otoritas Indonesia sebelum disiarkan dalam jurnal mereka.

“Malah, khusus di IFC, Indonesia menempatkan seorang international liaison officer dari TNI AL sejak 2011 untuk memudahkan komunikasi pihak Angkatan Laut yang tergabung di sana terkait peristiwa yang terjadi,” tuturnya.

Sementara, untuk ReCAAP, tambah Siswanto, Indonesia memang tidak memiliki representasi di sana karena bukan anggotanya.

"Tetapi, lembaga ini sering mengundang Bakamla berbicara dalam Nautical Forum yang diadakan rutin diadakan setiap tahun. Yang terakhir diadakan pada 15 Januari 2020 lalu dan saya hadir menyimak presentasi Bakamla yang disampaikan oleh seorang stafnya," ujarnya.

Oleh karena itu, Kepala Bakamla diharapkan agar lebih bijak berdiplomasi di ranah keamanan maritim di kawasan Asia Tenggara khususnya dan Asia pada umumnya karena bisa merusak soliditas antarnegara yang sudah terbangun selama ini.

Sebelumnya, seperti dikutip dari laman resmi Bakamla, Kepala Bakamla Aan Kurnia, mengatakan bahwa pihaknya berencana mendirikan pusat informasi keamanan maritim Indonesia Maritime Information Center (IMIC).

Pasalnya, menurut Bakamla, informasi yang selama ini dipublikasikan oleh International Maritime Bureau, Information Fusion Center dan Regional Cooperation Agreement on Combating Piracy and Armed Robbery against Ships in Asia dinilai tidak proporsional dan cenderung merugikan Indonesia.

Menurutnya, banyak informasi yang secara fakta sebenarnya hanyalah kasus pencurian kecil di kapal, namun diberitakan seolah terjadi perompakan besar saat diberitakan pada jurnal lembaga tersebut.

Untuk itu, Bakamla berencana untuk mendirikan sebuah pusat informasi keamanan maritim di Indonesia, untuk mengimbangi pemberitaan kemaritiman yang selama ini dikeluarkan oleh ketiga lembaga tersebut sebelumnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perompak illegal fishing bakamla
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top