Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kondisi Sulit, Maskapai Filipina Minta Stimulus Pemerintah

Maskapai asal Filipina, yakni Philippine Airlines Inc., Cebu Air Inc., dan unit lokal AirAsia Group Bhd meminta stimulus kepada pemerintah setempat karena sulit memperoleh pemasukan.
Agne Yasa
Agne Yasa - Bisnis.com 20 Juni 2020  |  14:59 WIB
Pesawat Cebu Pacific. -  Dok. cebupacificair.com
Pesawat Cebu Pacific. - Dok. cebupacificair.com

Bisnis.com, JAKARTA - Maskapai penerbangan yang beroperasi di Filipina meminta dukungan yang lebih cepat dan agresif dari pemerintah karena penerbangan kembali tersendat pada bulan ini, sehingga tidak banyak menghasilkan pemasukan.

Philippine Airlines Inc., Cebu Air Inc., dan unit lokal AirAsia Group Bhd hanya mampu menerbangkan sekitar 10 persen hingga 15 persen dari jadwal penerbangan mereka meskipun ada permintaan dari para pelancong yang terlantar dan pekerja migran yang kembali, dalam sebuah pernyataan resmi perusahaan, seperti dikutip dari Bloomberg, Sabtu (20/6/2020).

Chief Executive Officer Filipina AirAsia Ricardo Isla mengatakan kekhawatiran yang berkepanjangan atas Covid-19 telah membuat setengah bandara regional ditutup, sementara yang lain membatasi penerbangan hanya sekali seminggu. Adapun, sebagian besar infeksi Covid-19 di Filipina ada di pusat perjalanan utama Metro Manila dan Kota Cebu.

Sementara itu, Jose Enrique Perez de Tagle, Vice President Philippine Airlines mengatakan proses persetujuan pemerintah daerah yang panjang dan berubah-ubah telah memaksa pembatalan penerbangan di menit-menit terakhir.

"Sementara tempat karantina yang penuh sesak di wilayah ibu kota telah menyebabkan pembatasan pada kedatangan internasional," katanya.

Adapun maskapai ini telah memulai kembali penerbangan ke Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Australia, dan Jepang.

Kepala Komunikasi Cebu Air Rosario Logarta-Lagamon mengatakan hal tersebut menjadi proses yang membosankan. "Kami tidak akan mengakhiri masalah penumpang yang terdampar jika kami tidak menambah frekuensi hari ini," ujarnya.

Maskapai penerbangan di seluruh dunia telah mengalami kesulitan ketika penerbangan dihentikan dan negara-negara menutup perbatasan untuk mengendalikan penyebaran Covid-19. Hal ini mendorong pemerintah untuk memberikan bantuan kepada industri.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional memperkirakan Covid-19 akan berdampak pada pendapatan Filipina sebesar US$4,5 miliar dan merumahkan hampir 550.000 pekerjaan tahun ini.

Asosiasi Transportasi Udara negara itu menggantungkan harapannya pada Kongres untuk meloloskan stimulus senilai 1,3 triliun peso atau US$26 miliar pada Agustus.

Stimulus ini akan menawarkan jaminan kredit, fasilitas pinjaman, dan keringanan biaya untuk sektor maskapai penerbangan.

"Menyediakan akses ke modal lebih mendesak dan lebih murah daripada proposal pemerintah terpisah yang akan memungkinkan pemberi pinjaman negara untuk berinvestasi di perusahaan-perusahaan yang tertekan," kata Roberto Lim, Wakil Ketua Asosiasi.

Dia menambahkan dibutuhkan waktu untuk mengatur lembaga keuangan pemerintah, kemudian membuat perusahaan melakukan uji tuntas dan proses penilaian. "Itu bukan solusi untuk likuiditas, yang merupakan masalah hari ini," katanya

Sambil menunggu dukungan pemerintah, Cebu Air sedang melakukan negosiasi ulang dengan Airbus SE untuk pengiriman empat pesawat baru tahun ini.

Sementara itu, Philippine Airlines sedang mengkaji apakah mereka dapat menunda pesanan tujuh hingga delapan pesawat baru yang semula dijadwalkan pada 2023, kata para pejabat.

Sementara itu, Isla mengatakan penawaran umum perdana AirAsia Filipina, tidak mungkin dilakukan dalam dua tahun ke depan dan pesanan tiga hingga lima pesawatnya akan ditunda hingga 2021.

"Semakin banyak ini tanpa pengawasan, semakin besar kerusakan pada industri," kata Lim.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

internasional maskapai penerbangan
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top