Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penjualan Produk Migas Jadi Penyebab Pendapatan Pertamina Turun

Penjualan produk unggalan perusahaan migas pelat merah itu lebih rendah 2,14 persen menjadi US$43,78 miliar dibandingkan dengan 2018 senilai US$44,74 miliar.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 19 Juni 2020  |  19:19 WIB
Aktifitas pengisian truk tangki untuk distribusi bahan bakar minyak (BBM) di Depo BBM Pertamina di Plumpang, Jakarta, Senin (4/5/2020). Bisnis - Dedi Gunawan
Aktifitas pengisian truk tangki untuk distribusi bahan bakar minyak (BBM) di Depo BBM Pertamina di Plumpang, Jakarta, Senin (4/5/2020). Bisnis - Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak yang mulai menunjukkan tren penurunan pada 2019, membuat kinerja PT Pertamina (Persero) sepanjang tahun lalu meredup.

Adapun, berdasarkan laporan keuangan Pertamina yang dipublikasikan di Bisnis, pendapatan Pertamina sepanjang 2019 tercatat senilai US$54,58 miliar, atau turun US$3,35 miliar dibandingkan dengan periode sebelumnya dengan pendapatan mencapai US$57,93 miliar.

Salah satu faktor yang menyebabkan pendapatan Pertamina pada 2019 yang terpangkas adalah penurunan penjualan minyak mentah, gas bumi, energi panas bumi dan produk minyak.

Penjualan produk unggalan perusahaan migas pelat merah itu lebih rendah 2,14 persen menjadi US$43,78 miliar dibandingkan dengan 2018 senilai US$44,74 miliar.

Akibat penjualan yang menurun, laba bersih Pertamina sepanjang 2019 tercatat stagnan jika dibandingkan dengan 2018 yakni US$2,53 miliar.

Fajriyah Usman, VP Corporate Communication menjelaskan sepanjang tahun lalu perseroan melewati tantangan perekonomian sepanjang 2019 yang masih mengalami tekanan sejalan dengan dinamika global.

Selain itu, terdapat sejumlah sentimen yang memengaruhi kinerja sektor migas seperti nilai harga minyak mentah Indonesia atau ICP yang masih cukup tinggi di level US$62 per barel dan kurs yang cenderung menguat di kisaran Rp14.146.

Fajriyah menjelaskan, pencapaian kinerja keuangan tersebut turut dipengaruhi oleh sejumlah pencapaian penting yang didukung oleh peningkatan kinerja operasi dan efisiensi dari berbagai inisiatif dan langkah terobosan yang dilakukan untuk mewujudkan pencapaian visi perusahaan menjadi perusahaan energi nasional kelas dunia.

“Dengan dinamika dan tantangan bisnis selama 2019, kami bersyukur Pertamina dapat menorehkan berbagai pencapaian dan mempertahankan laba bersih stabil, sama dengan tahun sebelumnya,” ujarnya dalam keterangan resminya, Kamis (18/6/2020).

Apabila dibandingkan dengan kinerja pada 2018, pada tahun ini hasil yang dicatatkan Pertamina cenderung stagnan.

Pasalnya, pada 2018, perusahaan milik negara itu mencatatkan pertumbuhan yang pesat dengan torehan pendapatan dan laba hingga double digit.

Berdasarkan laporan keuangan 2018, Pertamina mampu mengantongi pendapatan senilai US$57,93 miliar, meningkat 25,93 persen dibandingkan dengan 2017 senilai US$46 miliar.

Penjualan dalam negeri minyak mentah, gas bumi, energi panas bumi dan produk minyak Pertamina tumbuh 12,46 persen menjadi US$44,74 miliar dari US$39,78 miliar pada 2017.

Penjualan ekspor minyak Pertamina pada periode tersebut tumbuh signifikan dari US$1,87 miliar pada 2017 menjadi US$3,63 miliar pada 2018.

Namun, dari sisi laba bersih, pada periode itu, Pertamina mengantongi laba bersih senilai US$2,52 miliar, tercatat stagnan dibandingkan dengan tahun sebelumnya US$2,54 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertamina laporan keuangan
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top