Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Klaim Pengangguran AS Menyusut, Tantangan Kerja Tetap Tinggi

Kondisi ini menggarisbawahi tantangan-tantangan pasar tenaga kerja dalam jangka waktu lebih panjang yang disebabkan pandemi virus corona (Covid-19).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 11 Juni 2020  |  21:28 WIB
Demonstrasi di Minneapolis, Amerika Serikat pada Selasa (26/5 - 2020) memprotes kematian George Floyd. (Carlos Gonzalez / Star Tribune melalui Getty Images)
Demonstrasi di Minneapolis, Amerika Serikat pada Selasa (26/5 - 2020) memprotes kematian George Floyd. (Carlos Gonzalez / Star Tribune melalui Getty Images)

Bisnis.com, JAKARTA – Pengajuan permohonan tunjangan pengangguran di Amerika Serikat menyurut secara bertahap kendati aktivitas bisnis kembali mengalir.

Kondisi ini menggarisbawahi tantangan-tantangan pasar tenaga kerja dalam jangka waktu lebih panjang yang disebabkan pandemi virus corona (Covid-19).

Menurut data Departemen Tenaga Kerja AS yang dirilis Kamis (11/6/2020), klaim pengangguran awal mencapai 1,54 juta orang untuk pekan yang berakhir pada 6 Juni.

Meski sedikit lebih tinggi dari estimasi median Ekonom dalam survei Bloomberg sebesar 1,55 juta, klaim pada pekan lalu lebih rendah dari 1,9 juta pada pekan sebelumnya.

Permohonan untuk jaminan pengangguran telah turun secara konsisten setiap pekan sejak memuncak pada akhir Maret. Namun, volume pengajuan secara mingguan masih lebih dari dua kali lipat raihan pada pekan terburuk selama periode Great Recession.

Sementara itu, klaim berkelanjutan - yang menghitung klaim manfaat berkelanjutan warga Amerika dalam program negara bagian – mengalami penurunan lebih kecil dari estimasi menjadi 22,8 juta pada pekan yang berakhir 30 Mei.

Data-data tersebut dilaporkan dengan jeda satu pekan. Rata-rata klaim berkelanjutan selama empat pekan turun untuk pekan kedua menjadi 22 juta.

Ketika disandingkan dengan laporan ketenagakerjaan bulan Mei yang dirilis pekan lalu, dengan penambahan 2,5 juta pekerja, data klaim hari ini menggarisbawahi kondisi pasar tenaga kerja yang sedang dialami. Jutaan warga Amerika kembali bekerja dan bisnis dibuka kembali.

Di sisi lain, perusahaan-perusahaan tetap menghadapi penurunan permintaan dan merumahkan pekerja sebagai akibat dari tekanan keuangan.

Yang terburuk dari PHK akibat pandemi Covid-19 kemungkinan besar telah berakhir, tetapi efek sekunder dari apa yang akhirnya mungkin menjadi resesi terdalam dalam hampir satu abad bisa bertahan lebih lama.

Gubernur Federal Reserve Jerome Powell pada Rabu (10/6/2020) menyatakan keprihatinan tentang tantangan pengangguran jangka panjang pascapandemi.

“Asumsi saya adalah bahwa akan ada bagian yang signifikan, jutaan orang yang tidak bisa kembali ke pekerjaan lama mereka dan mungkin tidak ada pekerjaan di industri itu untuk mereka selama beberapa waktu. Mungkin perlu beberapa tahun sampai kita kembali melihat orang-orang itu menemukan pekerjaan,” ungkap Powell, dikutip dari Bloomberg, Kamis (11/6/2020). 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tenaga kerja amerika serikat pengangguran
Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top