Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

2020, Produksi AC Tidak Akan Melonjak

Gabungan Pengusaha Elektronika mendata saat ini ketersediaan AC di pasar cukup untuk memenuhi permintaan selama 1 semester ke depan.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 10 Juni 2020  |  21:50 WIB
Air Contioner.  - Bisnis.com
Air Contioner. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Musim kemarau pada tahun ini diproyeksi tidak akan meningkatkan utilitas produksi pendingin ruangan (air conditioner/AC) pada tahun ini. Pasalnya, gudang peritel maupun industri saat ini sudah penuh oleh AC yang belum diserap pasar.

Gabungan Pengusaha Elektronika (Gabel) mendata saat ini ketersediaan AC di pasar cukup untuk memenuhi permintaan selama 1 semester ke depan. Maka dari itu, asosiasi menilai lonjakan permintaan yang biasa terjadi pada musim kemarau dapat terpenuhi oleh pasokan tersebut.

"[Tahun ini] tidak ada persiapan khusus karena stok di pasar masih banyak. Karena [pandemi] Covid-19, mendadak demand drop sehingga stok di pasar masih banyak. Tidak usah khawatir," ujar Sekretaris Jenderal Gabel Daniel Suhardiman kepada Bisnis, Rabu (10/6/2020).

Seperti diketahui, World Metereology Organization mencatat beberapa tahun terakhir sebagai musim kemarau terpanas sepanjang masa. Adapun, berdasarkan catatan Bisnis, musim kemarau pada tahun lalu membuat permintaan AC melonjak sekitar 53-101 persen secara tahunan.

Daniel berujar pandemi Covid-19 membuat permintaan produk elektronika utama anjlok sekitar 60-70 persen pada kuartal II/2020. Adapun, Daniel memberikan contoh beberapa produk elektronika utama di dalam negeri yakni AC, lemari es, dan mesin cuci.

Di samping itu, lanjutnya, pandemi juga menurunkan permintaan peralatan domestik elektronik kecil sekitar 50-70 persen.

"Tentu saja ini menurunkan kinerja industri elektronika dalam negeri."

Oleh karena itu, Daniel meramalkan utilitas industri elektronika baru akan kembali pulih pada kuartal IV/2020 jika permintaan berangsur pulih pada bulan ini. Namun demikian, Daniel memproyeksikan permintaan elektronika belum akan membaik pada bulan ini lantaran peritel besar baru akan kembali memulaiu aktivitas medio Juni 2020.

"Pasar modern baru buka tanggal 15 Juni 2020. [Kondisi ini] memang berat, tapi ya musti dijalankan," ucapnya.

Di sisi lain, Daniel mengapresiasi pemerintah terkait pemberian insentif fiskal kepada palku industri elektronika. Namun demikian, Daniel menekankan penyelamatan industri elektronika sangat bergangung dari kecepatan pemulihan kondisi perekonomian dari Covid-19.

Daniel menyampaikan hingga saat ini industri elektronika belum melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran. Pasalnya, lanjutnya, mayoritas pabrikan elektronika nasional memiliki prinsipal asing yang bisa mendukung arus kas pabrikan.

Namun demikian, Daniel mengakui sebagian pabrikan telah melakukan PHK dalam jumlah kecil. Daniel menjelaskan hal tersebut disebabkan oleh lemahnya kekuatan sebagian pabrikan elektronika.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

musim kemarau covid-19
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top