Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Asian Agri Klaim Belum Ada Koreksi Produksi

Direktur Sustainability and Stakeholder Relations Asian Agri Bernard Riedo mengatakan pandemi Covid-19 hanya berdampak pada penjadwalan pengiriman minyak sawit perseroan.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 10 Juni 2020  |  18:45 WIB
Logo Asian Agri. Istimewa
Logo Asian Agri. Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - PT Asian Agri Group mengklaim belum penurunan produksi minyak sawit selama pandemi Covid-19.

Direktur Sustainability and Stakeholder Relations Asian Agri Bernard Riedo mengatakan pandemi Covid-19 hanya berdampak pada penjadwalan pengiriman minyak sawit perseroan. Di samping itu, Bernard menyampaikan perseroan mendapatkan sedikit peningkatan permintaan dari industri oleokimia.

"Salah satu hasil produksi pabrikan oleokimia bisa menjadi sabun dan produk kebersihan. Permintaan itu [saat ini] ke sana. Produksi oleokimia itu punya nilai tambah dan nilai pasar yang tinggi, sehingga opportunity itu akan dicari pasar," katanya dalam konferensi pers jarak jauh, Rabu (10/6/2020).

Bernard berujar pasokan minyak sawit ke pabrikan oleopangan dan biodiesel tercatat mengalami sedikit koreksi. Namun demikian, lanjutnya, hal tersebut lebih disebabkan oleh kendala logistik melainkan penurunan permintaan.

Bernard menyampaikan perseroan sampai saat ini mengirimkan seluruh hasil produksinya ke sister company perseroan yakni Apical Group. Adapun, Apical Group tercatat memiliki tiga kilang pengolahan minyak sawit di dalam negeri yang berlokasi di Dumai, Jakarta Utara, dan Balikpapan.

Di sisi lain, Bernard menyampaikan bahwa pemerintah telah mengundur program B40 menjadi awal 2022. Menurutnya, hal tersebut dilakukan setelah sebelumnya diundur ke pertengahan 2021 akibat pandemi Covid-19.

Seperti diketahui, program B40 merupakan 40 persen sumber nabati dalam bahan bakar diesel. Adapun, program tersebut akan mencapurkan fatty acid methyl ether (FAME) dengan produk turunan minyak sawit lainnya seperti green diesel maupun hasil destilasi FAME.

Oleh karena Bernard meminta agar pemerintah memberikan waktu bagi produsen biodiesel untuk melakukan investasi mesin selama 6-8 bulan sebelum program tersebut dijalankna. Pasalnya, mayoritas produsen biodiesel saat ini hanya memiliki mesin pengolah minyak sawit menjadi FAME.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

minyak sawit produksi Virus Corona
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top