Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mengurai Masalah Transportasi Publik Saat New Normal

Angkutan umum massal perkotaan dinilai memiliki kendala mendasar dalam mengimplementasikan adaptasi sosial di tengah pandemi virus corona atau Covid-19.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 31 Mei 2020  |  15:10 WIB
Antrean calon penumpang KRL commuter sebelum memasuki stasiun Depok Lama di Kota Depok, Jawa Barat, Selasa (14/4/2020). Penumpukan calon penumpang ini disebabkan aturan physical distancing di dalam stasiun dan gerbong kereta, serta pembatasan jam operasional kereta akibat penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI. Bisnis - Arief Hermawan P
Antrean calon penumpang KRL commuter sebelum memasuki stasiun Depok Lama di Kota Depok, Jawa Barat, Selasa (14/4/2020). Penumpukan calon penumpang ini disebabkan aturan physical distancing di dalam stasiun dan gerbong kereta, serta pembatasan jam operasional kereta akibat penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI. Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Angkutan umum massal perkotaan dinilai memiliki kendala mendasar dalam mengimplementasikan adaptasi sosial di tengah pandemi virus corona atau Covid-19.

Pengamat transportasi publik Djoko Setijowarno menuturkan terdapat sejumlah permasalahan yang akan dihadapi sektor transportasi publik saat  new normal atau situasi kenormalan baru mulai diterapkan.

“Masalahnya adalah bagaimana kemampuan kapasitas angkutan umum massal dapat menjamin terlaksananya physical distancing terutama pada jam-jam sibuk,” tuturnya dalam keterangan tertulisnya, Minggu (31/5/2020).

Menurutnya, kapasitas angkutan massal di Jabodetabek dipastikan tidak dapat menjamin pelaksanaan jaga jarak fisik, apabila kondisi normal baru diartikan semua orang beraktivitas seperti biasa laiknya sebelum pandemi.

Dengan demikian, lanjutnya, penambahan kapasitas angkutan umum pada jam sibuk guna mencapai jaga jarak fisik dengan demand yang setara sebelum pandemi akan sulit dilakukan.

Dia mencotohkan, semisal, KRL pada jam-jam sibuk tidak mungkin menambah kapasitas untuk memenuhi ketentuan physical distancing. “Setiap kereta hanya maksimal 35 persen dari seluruh penumpang terangkut , 50 persen saja mungkin sudah sangat berat,” tuturnya.

Menurut Djoko, penggunaan bus dapat menjadi pilihan alternatif para penumpang KRL. Namun, perlu dipastikan besaran tarif sesuai dengan KRL dan di sisi lain waktu tempuh pasti jauh akan lebih lama dibandingkan menggunakan kereta listrik.

Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia ini juga memprediksi kondisi jalan akan semakin macet karena pemilik kendaraan pribadi berupaya menghindari penggunaan angkutan umum.

“Kemacetan di jalan pasti akan lebih parah daripada sebelum pandemi karena mereka yang memiliki kendaraan pribadi baik sepeda motor maupun mobil akan menghindari angkutan umum massal dengan memilih kendaraan pribadi,” ujarnya.

Dia berpendapat intensitas aktivitas publik pada masa kenormalan baru perlu dikendalikan dan tidak bisa disamakan dengan kondisi sebelum wabah. Menurutnya, di saat normal baru, tidak semuanya harus kembali kerja ke kantor.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

transportasi massal angkutan umum Normal Baru
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top