Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kekuatan Jenama Pengembang Jadi Pendorong Penjualan di Tengah Pandemi

Masih banyak orang yang mampu membeli rumah, tapi banyak yang menunda pembelian pada masa seperti ini.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 29 Mei 2020  |  15:40 WIB
Salah satu proyek pembangunan properti Citraland. - JIBI/Dwi Prsetya
Salah satu proyek pembangunan properti Citraland. - JIBI/Dwi Prsetya

Bisnis.com, JAKARTA – Di tengah pandemi Covid-19, banyak pengembang yang kesulitan finansial karena penjualan mengalami penurunan yang tajam. Namun, pengembang yang sudah terkenal dinilai punya keuntungan lebih besar di tengah kondisi ini.

Penurunan tingkat pembelian, menurut survei Marketeers Inc., hanya ada 10 persen dari peserta survei yang menyatakan tetap bisa membeli properti pada masa pandemi. Mereka memutuskan membeli properti saat ini sebagai sarana investasi jangka panjang untuk masa setelah pandemi.

Adapun, 90 persen sisanya, akan memutuskan membeli properti ketika pandemi Covid-19 usai karena mereka lebih memilih untuk menjaga kemampuan finansial mereka.

Namun, sudah banyak baik pengembang mapun konsumen yang berkomunikasi dan mencari informasi secara digital. Adapun, banyak pula pengembang yang menyediakan informasi secara luring (offline) sudah disarankan untuk beralih ke saluran digital.

Meskipun permintaan tipis, pengembang yang memiliki jenama (brand) lebih terkenal dinilai lebih diuntungkan pada masa pandemi ini.

Presdir PT Summarecon Agung Tbk., Adrianto P. Adhi mengatakan bahwa selama masa pandemi pembelian masih ada walaupun menipis.

Adapun, pembelian yang datang bukan melulu dari kalangan menengah ke bawah, melainkan juga datang dari kalangan menengah ke atas.

“Pada saat seperti ini orang mengandalkan kepercayaan sehingga orang tetap mau membeli produknya Summarecon. Kami masih bisa menjual produk yang nilainya masih di atas Rp6 miliar–Rp7 miliar karena beberapa orang masih punya duit cash atau memang mereka favoritnya di Summarecon,” ujarnya dalam webinar Industry Roundtable, Jumat (29/5/2020).

Andri juga menyebutkan bahwa masih ada orang membeli rumah pada harga Rp1 miliar dan Rp2 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak orang yang mampu membeli rumah, tapi banyak yang menunda pembelian pada masa seperti ini.

Ke depannya, pengembang perlu menyiapkan diri menuju kenormalan baru atau new normal. Andri mengatakan bahwa pengembang harus siap terhadap perubahan yang terjadi dan lebih responsif karena pasar ke depan akan menghadapi perubahan perilaku sosial.

Anak usaha Ciputra Group, PT Cipura Residence, juga mencatatkan penjualan dengan jumlah yang cukup besar selama masa pandemi.

Menurut Associate Marketing Director Ciputra Residence Yance Onggo, kepercayaan konsumen pada jenama menjadi salah satu alasan mengapa pengembang besar masih bisa mencatatkan penjualan.

“Karena orang perlu kepastian di tengah banyaknya ketidakpastian ini. Pengembang yang sudah ternama akan lebih dipercaya para konsumen karena sudah jelas kinerjanya di masa-masa sebelum pandemi,” ungkapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pengembang rumah New Normal
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top