Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kuota Impor Pangan Perlu Dievaluasi

Turunnya permintaan dalam negeri akibat pandemi Covid-19, termasuk terhadap pangan impor, dinilai perlu diimbangi dengan peninjauan kembali kuota dan alokasi impor pangan yang ditetapkan awal tahun ini.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 28 Mei 2020  |  17:04 WIB
Daging kerbau beku yang dijual Bulog. - Antara
Daging kerbau beku yang dijual Bulog. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah diminta meninjau kembali alokasi impor pangan yang dilakukan untuk stabilisasi harga, terutama pada produk protein seperti daging kerbau.

Pasalnya, alokasi yang terlalu besar diperkirakan bakal makin menekan peternak dalam negeri yang makin kesulitan menjual produk karena pasar yang lesu.

Ketua Peternakan dan Perikanan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Anton J. Supit mengemukakan, pandemi Covid-19 sejatinya bisa menjadi momentum untuk mengoptimalisasi serapan pangan yang diproduksi di dalam negeri. Dalam hal pemenuhan kebutuhan protein, Anton mengatakan Indonesia memiliki potensi produksi unggas dan perikanan yang besar dan cenderung lebih terjangkau.

Anton mengatakan aksi pelaku usaha yang mengoreksi target impor untuk komoditas daging merupakan hal yang wajar karena pasar utama seperti bisnis hotel, restoran, dan katering tertekan akibat kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Di sisi lain, daya beli masyarakat pun menurun sehingga konsumsi protein dialihkan pada sumber alternatif yang lebih murah seperti telur dan daging ayam.

"Saya kira dalam situasi seperti ini lebih baik mengutamakan produksi dalam negeri. Jika impor daging kerbau dalam jumlah besar terjadi, peternak lokal akan kesulitan menjual ternaknya di pasar yang sempit," kata Anton, Kamis (28/5/2020). 

Hal senada pun dikemukakan oleh Ekonom Senior Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Enny Sri Hartati.

Pemerintah dan dunia usaha disebutnya perlu berkaca pada kasus pasokan daging ayam yang surplus dan mengakibat harga anjlok di tingkat peternak belum lama ini. Menurutnya, kondisi ini pun bisa menjadi momentum untuk membenahi industri perunggasan di dalam negeri. 

Di sisi lain, dia pun memperkirakan pandemi bakal berimbas pada penurunan volume dan nilai impor pangan karena produksi dari negara pemasok yang juga berkurang.

Selain itu, penurunan impor ini disebutnya bukanlah sinyal bahwa ketahanan pangan di dalam negeri terjamin. Namun lebih disebabkan oleh daya konsumsi masyarakat yang berkurang. 

"Selama ini impor sayur-mayur dan daging untuk hotel dan restoran. Kalau impor mengalami penurunan, hal itu terjadi karena permintaan di dalam negeri juga melemah. Bukan serta-merta karena ada produksi yang meningkat di dalam negeri," ujarnya.

 Adapun, pengusaha importir daging sapi mengoreksi target realisasi impor pada tahun ini menyusul melemahnya serapan di tengah wabah Covid-19. Pemasukan daging sapi diperkirakan akan lebih rendah sekitar 50 persen dibandingkan realisasi pada 2019 lalu.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia (Aspidi) Suhandri mengemukakan, tak optimalnya usaha perhotelan dan restoran memiliki pengaruh besar dalam serapan daging sapi impor. Jika dalam sebulan serapan daging sapi atau kerbau bisa mencapai 6.000 ton, maka penjualan 1.000 ton per bulan dalam kondisi ini pun diakui Suhandri sulit tercapai.

"Volume serapan mungkin hanya tersisa 20 persen dari kondisi normal," ujar Suhandri.

Menyitir data Badan Pusat Statistik (BPS), realisasi impor daging sapi atau kerbau pada 2019 lalu mencapai 262.251 ton dan 93.970 ton di antaranya adalah daging kerbau dari India.

Adapun hingga Mei, Suhandri memperkirakan realisasi impor daging sapi hanya mencapai 30.000 ton. Jumlah ini jauh menurun dibandingkan realisasi impor daging sapi pada periode Januari–Mei 2019 yang mencapai 65.693 ton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

impor pangan Virus Corona
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top