Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pandemi Covid-19 Sebabkan Supply and Demand Shock, Ini 'Obatnya'

Pandemik Covid-19 yang kian luas telah menyebabkan berhentinya banyak kegiatan produksi akibat pembatasan mobilitas manusia. Akibatnya, terjadi supply and demand shock secara bersamaan.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 21 Mei 2020  |  18:59 WIB
Pandemik Covid-19 yang kian luas telah menyebabkan berhentinya banyak kegiatan produksi akibat pembatasan mobilitas manusia. Akibatnya, terjadi suply dan demand shock secara bersamaan. - Ilustrasi/Antara
Pandemik Covid-19 yang kian luas telah menyebabkan berhentinya banyak kegiatan produksi akibat pembatasan mobilitas manusia. Akibatnya, terjadi suply dan demand shock secara bersamaan. - Ilustrasi/Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Pandemi Covid-19 yang kian luas telah menyebabkan berhentinya banyak kegiatan produksi akibat pembatasan mobilitas manusia. Akibatnya, terjadi supply dan demand shock secara bersamaan.

Ketua Umum Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas) Bayu Priawan Djokosoetono mengatakan pandemik Covid-19 menyebabkan terganggunya kegiatan ekonomi bisnis secara ekstrem khususnya sektor produksi.

“Sehingga mata rantai sektor terkait juga terganggu, bahkan sudah ada yang mengalami stagnasi,” kata Bayu dalam keterangannya, Kamis (21/5/2020).

Menurut Bayu pemerintah telah berupaya melakukan mitigasi atas kemungkinan terpuruknya dunia usaha. Salah satunya dengan mengalokasikan anggaran khusus penanganan dampak ekonomi akibat Covid-19.

Kendati begitu dunia usaha perlu melakukan prediksi secara cermat agar tidak terlalu dalam menanggung risiko.

Sementara itu, Ekonom Faisal Basri, seperti dikutip dalam keterangan Bayu, menyebutkan kasus supply dan demand shock banyak ditemui khususnya pada sektor manufaktur dari hulu ke hilir. Sehingga pengaruhnya dirasakan cukup besar ke sektor lainnya.

“Bahkan sektor keuangan mengalami guncangan, bursa saham dan pasar obligasi ikut tertekan. Investasi nyaris berhenti, dan jutaan pekerja telah dirumahkan,” terangnya.

Faisal membandingkan krisis ekonomi dan depresi besar pada tahun 1929 akibat wabah penyakit yang notabene berbeda dengan kondisi dunia akibat pandemi saat ini.

Pada masa lalu, bantuan obatnya dan kebijakan ekonomi langsung dikeluarkan untuk memulihkannya. Berbagai perangkat kebijakan membuat kegiatan usaha dan masyarakat bisa terus berlangsung.

“Tapi akibat pandemik Covid-19 saat ini, semua berjalan serba tidak jelas. Sistem informasi dan globalisasi yang sangat masif menjadikan kondisi ekonomi dunia terguncang. Akibatnya di tingkat operasional bisnis terjadi supply shock dan demand shock secara bersamaan," jelasnya.

Menurutnya, perang melawan pandemi berbeda dengan perang konvensional yang selalu melahirkan dua kutub yang saling bertentangan. Pada konteks pandemi Covid-19, dibutuhkan aksi kolektif global untuk menghadapinya.

“Perlu semacam global solidarity guna menuju keseimbangan baru antara interdependency dan penguatan nation-state. Menutup diri bukanlah solusi. Konsolidasi di tingkat nation-state dalam periode transisi, juga diperlukan, tapi bukan antiasing,” ujarnya.

Faisal menuturkan apabila kebersamaan dunia berjalan baik, situasi ekonomi akan terselamatkan. Hubungan antara pasar dan negara bakal kembali seimbang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rantai pasok Virus Corona
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

Foto loadmore

BisnisRegional

To top