Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Gas US$6/MMBtu, Pupuk Kaltim Lebih Leluasa Berkembang dan Jaga Pasar Nasional

PT Pupuk Kaltim menyatakan penurunan tarif gas ke level US$6/MMBtu memungkinkan perseoran untuk berkembang dan menjaga pasar pupuk domestik.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 16 Mei 2020  |  20:55 WIB
Petugas memantau proses pengisian pupuk kedalam kapal saat produksi ekspor urea di Pelabuhan PT Pupuk Kaltim di Bontang, Kalimantan Timur, Selasa (18/9). PT Pupuk Indonesia menargetkan penjualan ekspor hingga sebesar Rp8,31 triliun sepanjang tahun 2018. - ANTARA/Reno Esnir
Petugas memantau proses pengisian pupuk kedalam kapal saat produksi ekspor urea di Pelabuhan PT Pupuk Kaltim di Bontang, Kalimantan Timur, Selasa (18/9). PT Pupuk Indonesia menargetkan penjualan ekspor hingga sebesar Rp8,31 triliun sepanjang tahun 2018. - ANTARA/Reno Esnir

Bisnis.com, JAKARTA - PT Pupuk Kaltim menyatakan penurunan tarif gas ke level US$6/MMBtu memungkinkan perseoran untuk berkembang dan menjaga pasar pupuk domestik.

Direktur Teknik dan Pengembagan Pupuk Kaltim Satriyo Nugroho mengatakan walaupun biaya tetap, produksi pupuk lokal kompetitif dibandingkan dengan negera tetangga. Namun demikian, pupuk impor masih berpotensi untuk membanjiri pasar pupuk nasional lantaran umur pabrikan yang tua dan tarif gas yang tinggi.

"Kalau [produksi pupuk] kita tidak kompetitif, maka produk impor akan membanjiri [pasar pupuk] Indonesia. Kalau produk pupuk luar lebih murah, mereka sangat mungkin masuk ke pasar kita," katanya pada IGS Wabinar Series Pengaruih Kebijakan Harga Gas Terhadap Daya Saing Industri Indonesia, Sabtu (16/5/2020).

Satriyo menjelaskan lima pabrik pupuk dengan kapasitas produksi terbesar di dalam negeri memiliki umur lebih dari 30 tahun. Menurutnya, pabrik yang sudah berdiri lama memiliki efisiensi konsumsi gas yang rendah dibandingkan dengan pabrikan baru.

Adapun, Satriyo mendata pabrikan pupuk di Malaysia dan Vietnam memiliki efisiensi konsumsi gas yang tinggi lantaran rata-rata umur pabrik yang masih di bawah 20 tahun.

Dengan kata lain, harga pupuk di negeri jiran relatif lebih murah lantaran penggunaan gas yang lebih efisien mengingat 70 persen biaya produksi pupuk dialokasikan untuk gas alam.

Kamar Dagang Indonesia mendata industri pupuk merupakan sektor manufaktur yang paling banyak mengonsumsi gas alam hingga 2030. Adapun, tahun ini industri pupuk diproyeksikan akan mengonsumsi gas alam sebanyak 1.925,8 MMscfd.

Di sisi lain, Satriyo menyampaikan pihaknya masih menggunakan gas alam sebagai bahan baku produksi karena masih lebih rendah dibandingkan dengan metode yang lain seperti gasifikasi batu bara.

Seperti diketahui, Pupuk Kaltim merupakan anak usaha dari PT Pupuk Indonesia (Persero) yang saat ini tergabung dalam proyek gasifikasi batu bara di Tanjung Enim, Sumatra Selatan.

"Harga batu bara sekarang [belum kompetitif untuk digasifikasi] dan [ketersediaanya] terbatas di Kalimantan dan Sumatra. Kemudian, biaya gasifikasi masih jauh lebih mahal daripada harga gas sekarang. Jadi, tidak ekonomis," ucapnya.

Selain menurunkan biaya produksi, Satriyo menyatakan penurunan tarif gas juga memungkikan perseroan untuk membangun pabrik pupuk NPK dan membuat usaha patungan berbasis amonia. Adapun, Satriyo menyatakan pihaknya sedang membangun beberapa pabrikan hingga 2022 dalam bentuk ekspansi maupun diversifikasi.

Satriyo mencatat pihaknya akan membangun dua pabrik pupuk NPK di Makassar pada kuartal III/2020 hingga kuartal I/2021 dan pabrik pupuk NPK di Bontang pada kuartal II/2019 hingga kuartal III/2020.

Selain itu, lanjutnya, perseroan telah bekerja sama dengan PT Dahana untuk membangun pabrik amomnium nitrat pada kuartal IV/2019 hingga kuartal II/2022. Seperti diketahui, ammonium nitrat adalah bahan baku peledak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Gas pupuk kaltim
Editor : Nurbaiti

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

To top