Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pertamina Hulu Mahakam (PHM) Pangkas Penggunaan Rig dan Pengeboran Sumur

General Manager PHM John Anis mengatakan efisiensi merupakan salah satu strategi perseroan saat ini untuk menghadapi kondisi yang berat untuk industri hulu minyak dan gas bumi (migas).
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 15 Mei 2020  |  20:31 WIB
Ilustrasi pengeboran minyak - Reuters/Ernest Scheyder
Ilustrasi pengeboran minyak - Reuters/Ernest Scheyder

Bisnis.com, JAKARTA – PT Pertamina Hulu Mahakam memangkas jumlah penggunaan rig dan pengeboran sumur untuk meningkatkan efisiensi perseroan.

General Manager PHM John Anis mengatakan efisiensi merupakan salah satu strategi perseroan saat ini untuk menghadapi kondisi yang berat untuk industri hulu minyak dan gas bumi (migas).

Dia mengatakan bahwa, rendahnya harga minyak dunia dan gas dan tingkat permintaan yang rendah mendorong perseroan lebih efisien.

"Kami sekarang berubah ke mode bertahan," katanya kepada Bisnis, Jumat (15/5/2020).

Efisiensi yang dilakukan, kata John, berupa pemangkasan pengeluaran operasional (opex) dan pengeluaran belanja modal (capex).

Pertamina Hulu Mahakam memangkas jumlah pengeboran sumur pengembangan yang semula ditargetkan 117 sumur menjadi 85 sumur.

Langkah tersebut bertujuan untuk menyesuaikan permintaan LNG dan volume LNG yang akan diproses oleh kilang LNG agar tidak terjadi kondisi high inventory atau kelebihan kapasitas tangki.

Menyusul pengurangan jumlah pengeboran sumur, PHM juga memangkas penggunaan rig tahun ini menjadi 2 unit dari target semula 4 unit rig.

"Dari empat rig yang tersedia saat ini, kami sudah mulai merilis satu rig, yaitu Maera," ungkapnya.

Per April 2020, PHM mencatatkan produksi minyak dan gas di Blok Mahakam mencapai 655 mmscfd dan 30.700 bph minyak.

John mengatakan, sejauh ini produksi gas perseroan masih sejalan dengan program kerja dan anggaran (WP&B) tahun ini, sedangkan untuk realisasi produksi minyak di atas target WP&B.

Dia mengungkapkan, pada kuartal II/2020, produksi migas berpotensi akan menurun mengikuti kondisi kapasitas kilang LNG Bontang yang diprediksi mengalami high inventory.

"Kami telah mengurangi produksi untuk menghindari masalah keamanan di Bontang," ungkapnya.

Pada saat ini, fokus utama PHM adalah untuk menekan tingkat penurunan produksi di Blok Mahakam mengingat lapangan tersebut tergolong tua.

Dia menuturkan, jika operator tidak melakukan sejumlah inisiatif atau tidak ada pengeboran di sumur pengembangan baru, tingkat produksi Blok Mahakan berpotensi turun hingga 50 persen.

"Untuk memastikan bahwa Mahakam [produksi] dipertahankan, kita harus melakukan pengeboran sumur serta melakukan intervensi sumur. Kita masih harus berinvestasi, tetapi, tentu saja, itu harus dilakukan secara efektif," katanya.

Selain itu, inisiatif yang dilakukan PHM untuk bertahan adalah dengan meninjau kegiatan lain seperti pengiriman LNG ke pasar spot, negosiasi ulang kontrak LNG yang ada.

Dia pun berharap adanya insentif fiskal yang diberikan pemerintah kepada sektor hulu migas guna mendukung keberlangsungan industri di tengah masa sulit saat ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertamina migas blok mahakam pengeboran
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top