Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekspor Ciut, IKM Garmen Butuh Safeguard untuk Garap Pasar Lokal

Penerapan safeguard dapat memicu para pelaku industrik kecil dan menengah (IKM) garmen untuk memenuhi kebutuhan domestik mengingat.
Aprianus Doni Tolok
Aprianus Doni Tolok - Bisnis.com 09 Mei 2020  |  16:07 WIB
Pedagang menata kain tekstil di pasar Tanah Abang, Jakarta, Selasa (11/2/2020). Bisnis - Arief Hermawan
Pedagang menata kain tekstil di pasar Tanah Abang, Jakarta, Selasa (11/2/2020). Bisnis - Arief Hermawan

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menilai penerapan tindakan pengamanan atau safeguard bagi industri garmen penting seiring kian kecilnya potensi pasar ekspor. Pasar domestik pun membuka peluang bagi industri garmen lokal.

Ketua API Jawa Barat Chandra Setiawan mengatakan bahwa penerapan safeguard dapat memicu para pelaku industrik kecil dan menengah (IKM) garmen untuk memenuhi kebutuhan domestik mengingat. Apalagi, saat ini semakin banyak pelaku retail di luar negeri yang tutup akibat pandemi Covid-19.

"Saat ini fenomema baru bahwa retail di luar negeri banyak alami goncangan dan banyak berguguran. Jadi, yang tadinya ekspor punya pasar besar, sekarang kita harus akomodasi eksportir bisa menjual produknya di dalam negeri," dalam webinar Rencana Penerapan Safeguard Untuk Produk Garmen, Sabtu (9/5/2020).

Kendati pasar garmen di Indonesia sangat potensial untuk digarap para pengusaha garmen lokal, ancaman produk impor tetap harus diwaspadai.

Chandra menilai bahwa keran impor yang masih terbuka lebar membuat IKM, khususnya di sektor garmen, akan sulit bersaing. Salah satu penyebabnya adalah harga produk impor yang relatif lebih murah.

"Kenapa produk garmen impor murah? Karena sisa ekspor negara lain diimpor ke Indonesia. Barang sisa dibeli secara kolektif akan dapat diskon lebih besar," ujarnya.

Selain itu, sambungnya, label atau merek produk garmen impor berbahasa asing menjadi keuntungan sendiri dan membuat produk garmen lokal akan kalah bersaing. Pasalnya, masyarakat akan lebih memilih produk asing dengan harga yang lebih murah.

Walhasil, Chandra berharap semua produk garmen impor yang masuk ke Indonesia harus berlabel dengan bahasa Indonesia jika dijual di Indonesia.

Permintaan tersebut didasarkan pasa Undang-Undang No.7/2014 Pasal 6 Ayat 1 yang menyatakan bahwa "Setiap Pelaku Usaha wajib menggunakan atau melengkapi label berbahasa Indonesia pada Barang yang diperdagangkan di dalam negeri".

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

garmen tekstil
Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top