Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Moody's: Nilai Tukar Rupiah Rentan Digoyang Faktor Eksternal

Nilai tukar rupiah rentan digoyahkan oleh faktor eksternal dan bisa memberikan tekanan sektor keuangan dan perekonomian Indonesia.
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 03 April 2020  |  15:00 WIB
Karyawan menghitung uang dolar AS di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Rabu (18/3/2020). Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Rabu (18/3) hingga pukul 10.09 WIB, nilai tukar rupiah melemah 140 poin atau 0,93 persen ke posisi Rp15.223 per dolar AS. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar - wsj.
Karyawan menghitung uang dolar AS di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Rabu (18/3/2020). Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Rabu (18/3) hingga pukul 10.09 WIB, nilai tukar rupiah melemah 140 poin atau 0,93 persen ke posisi Rp15.223 per dolar AS. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar - wsj.

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah rentan digoyahkan oleh faktor eksternal dan bisa memberikan tekanan sektor keuangan dan perekonomian Indonesia.

Hal ini disampaikan oleh Moody's Investor Service dalam laporannya yang terbit pada Kamis (2/4/2020). Berdasarkan catatan Moody's, nilai tukar rupiah sudah terdepresiasi sebesar 20 persen terhadap dollar AS terhitung sejak awal Februari 2020.

"Saat ini, nilai tukar rupiah berada di titik terendah terhitung sejak krisis finansial tahun 1998," tulis Moody's dalam laporannya.

Selain karena faktor gejolak pasar keuangan global serta twin deficit yakni defisit anggaran dan defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD), ketergantungan pasar modal Indonesia pada dana asing dari asing menyebabkan nilai tukar rupiah tertekan.

Depresiasi nilai tukar rupiah sangat nampak disebabkan oleh derasnya capital outflow pada Maret 2020. Moody's mencatat secara rata-rata capital outflow pada Maret 2020 mencapai US$243 juta.

Oleh karena besarnya peranan investor asing dalam pasar modal, terutama pada pasar obligasi, Indonesia secara historis sangat rentan tertekan oleh volatilitas arus modal masuk dan arus modal keluar.

Mengingat Indonesia tidak memiliki global bonds yang jatuh tempo pada 2020 dan secara keseluruhan average time to maturity (ATM) dari utang mencapai 8,5 tahun, maka tekanan untuk melakukan refinancing utang tergolong rendah.

Dari sisi eksternal, depresiasi nilai tukar rupiah menekan kemampuan negara dalam mengimpor minyak dengan harga murah. Pada sisi lain, ekspor masih cenderung tertekan karena harga komoditas andalan Indonesia juga mengalami penurunan karena rendahnya permintaan.

Akibatnya, CAD pada 2020 diproyeksikan bakal melebar ke 3,5% dari PDB pada 2020, jauh lebih tinggi dibandingkan 2019 yang mencapai 2,7% dari PDB. Kombinasi antara pelebaran CAD, capital outflow, dan intervensi Bank Indonesia (BI) akan menekan cadangan devisa.

Tekanan pada cadangan devisa bakal meningkatkan risiko ekstenal. Moody's memasang skenario apabila terdapat tambahan capital outflow sebesar 2% dari PDB, cadangan devisa bisa tergerus hingga tinggal US$96 miliar.

Senada, Asian Development Bank (ADB) dalam laporannya juga menyatakan bahwa Indonesia sangat rentan digoyahkan oleh sentimen asing karena CAD yang terus ditambal oleh aliran investasi portofolio.

Pada tahun ini, ADB memperkirakan CAD mencapai 2,9% dari PDB, sedangkan World Bank memperkirakan CAD akan mencapai 2,8% dari PDB.

Bank Indonesia (BI) sebelumnya optimis nilai tukar rupiah bakal menguat ke nominal Rp15.000 per dolar AS, menguat dari posisi saat ini yang sudah di atas Rp16.000 per dolar AS.

Dalam skenario berat dan terberat yang dirancang oleh pemerintah akibat dampak COVID-19, nilai tukar rupiah bisa melebar ke Rp17.500 hingga Rp20.000 per dolar AS bila COVID-19 tidak ditangani dengan baik dan segera dimitgasi.

Langkah-langkah penanganan COVID-19 pun dituangkan dalam Perppu No. 1/2020 dengan harapan melalui langkah tersebut skenario berat yang disimulasikan pemerintah tidak terjadi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Rupiah defisit transaksi berjalan
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

Foto loadmore

BisnisRegional

To top