Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mana Lebih Parah, Dampak COVID-19 atau Krisis 2008? Ini Faktanya

Stimulus yang diberikan untuk mengatasi krisis akibat virus corona jauh lebih besar dibandingkan dengan stimulus pada krisis 2008.
Tegar Arief
Tegar Arief - Bisnis.com 01 April 2020  |  12:02 WIB
Ilustrasi Virus Corona (Covid/19)
Ilustrasi Virus Corona (Covid/19)

Bisnis, JAKARTA – Sejumlah negara termasuk Indonesia telah memberikan stimulus untuk mengatasi wabah virus corona atau COVID-19 yang melumpuhkan ekonomi serta mengakibatkan ribuan masyarakat meninggal dunia.

Stimulus ini diberikan untuk memulihkan ekonomi yang makin terpuruk akibat pandemi. Stimulus yang diberikan untuk mengatasi krisis akibat virus corona ini jauh lebih besar dibandingkan dengan stimulus pada krisis 2008.

Pengamat kebijakan publik Achmad Nur Hidayat mencatat, stimulus fiskal yang diberikan oleh seluruh negara di dunia pada 2009 akibat krisis 2008 lalu tercatat hanya 1,7% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sedangkan pada tahun ini, total stimulus yang diberikan mencapai 2,8% dari PDB.

“Ini menunjukkan krisis [saat ini] lebih parah dari 2008. Sekarang kalau dari sisi persentase [stimulus fiskal] terhadap PDB kita berasumsi bahwa virus corona mengguncang ekonomi dunia,” katanya dalam Kajian Online Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Rabu (1/4).

Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu negara yang menggelontorkan stimulus cukup besar pada tahun ini. Dia menambahkan, Pemerintahan Donald Trump telah mengucurkan dana senilai US$2 triliun. Selain itu, The Fed, bank sentral negara tersebut menggelontorkan dana mencapai US$4 triliun.

Dana tersebut setara dengan 9,3% dari PDB, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan stimulus yang dikucurkan Negeri Paman Sam pada 2009 lalu yang hanya 5,5% dari PDB.

Sementara itu, Pemerintah Indonesia mengalokasikan tambahan anggaran sebesar Rp405,1 triliun untuk mengendalikan penyebaran virus corona. Anggaran tersebut juga digunakan untuk meredam dampak ekonomi dari pandemi virus tersebut. Sebelumnya, pemerintah juga telah memberikan beragam stimulus kepada pelaku usaha dan masyarakat akibat wabah ini.

Secara total, jumlah dana yang dicairkan jauh lebih besar dibandingkan dengan dana yang disiapkan pemerintah saat mengatasi krisis 2008.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, pada 2009, total dana yang dialokasikan untuk program stimulus adalah sebesar Rp73,2 triliun.

Dari sisi penerimaan, stimulus diberikan melalui pemotongan pajak dan subsidi pajak. Sedangkan dari sisi belanja, stimulus diberikan dalam bentuk penurunan harga solar, diskriminasi tarif listrik bagi industri, perluasan PNPM, dan tambahan belanja infrastruktur.

Dampak ke pertumbuhan ekonomi juga jauh berbeda. Penyebaran virus corona diprediksi menekan pertumbuhan ekonomi nasional hingga -0,4%, berdasarkan kajian Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Angka tersebut merupakan analisa skenario sangat berat. Adapun untuk skenario berat, COVID-19 akan menekan pertumbuhan ekonomi hingga 2,3% pada tahun ini.

"Kondisi ini menimbulkan penurunan kegiatan ekonomi dan menekan lembaga keuangan," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Kendati turun cukup dalam, angka tersebut masih jauh lebih baik dibandingkan dengan dampak yang ditimbulkan krisis 2008 terhadap pertumbuhan ekonomi.

Kala itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6,06%. Setahun kemudian, atau pada 2009 pertumbuhan ekonomi merosot menjadi 4,5% setelah terdampak krisis global 2008.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona
Editor : Tegar Arief

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top