Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Minyak Dunia Turun, Jokowi Minta Hitung Ulang Harga BBM

Presiden Joko Widodo meminta kementerian terkait untuk mengkalkulasikan harga minyak di dalam negeri dikarenakan harga minyak mentah telah dunia berada pada kisaran US$30 per barel.
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 18 Maret 2020  |  11:02 WIB
Pengendara sepeda motor melakukan pengisian bahan bakar minyak di salah satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jakarta, Sabtu (14/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pengendara sepeda motor melakukan pengisian bahan bakar minyak di salah satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jakarta, Sabtu (14/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Joko Widodo atau Jokowi meminta kementerian terkait untuk melakukan penyesuain harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Hal tersebut seiring dengan merosotnya harga minyak dunia.

“Saya minta dikalkulasi, dihitung dampak dari penurunan ini [harga minyak dunia] pada perekonomian kita terutama BBM [bahan bakar minyak], baik BBM bersubisidi maupun BBM non-subsidi,” katanya dari Istana Merdeka, Jakarta dalam rapat terbatas melalui video conference dengan kabinet Indonesia Maju, Rabu (18/3/2020).

Menurut Jokowi, saat ini harga minyak dunia telah turun hingga ke level sekitar US$30 per barel. Dia meminta jajarannya menghitung periode penurunan ini dan juga perkiraan harga minyak ke depan.

“Kita harus merespons dengan kebijakan yang tepat dan kita juga harus bisa memanfaatkan momentum dan peluang ini,” katanya.

Adapun sebelumya, Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Resiko PT Pertamina (Persero) Heru Setiawan mengatakan masih perlu berkoordinasi terkait dampak penurunan harga minyak dunia.

"Harga BBM turun? Wah itu masih jauh, kita masih pelajari, tapi yang pasti tidak semudah itu perlu koordinasi dengan pemangku kepentingan, seperti Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan ,dan pihak lain yang terdampak, ada formulanya itu," katanya seperti dilansir Antara, Rabu (11/3/2020).

Dalam kesempatan berbeda, pengamat ekonomi energi dari UGM Fahmy Radhi menyarankan Pertamina segera menurunkan harga BBM karena harga minyak dunia turun drastis sampai di bawah US$50 per barel setelah OPEC berupaya menurunkan produksi hingga 1,5 juta barel, tetapi Rusia yang non OPEC menolaknya.

Di sisi lain, Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan menyebut Indonesia akan ikut menikmati penurunan harga minyak dengan subsidi BBM yang langsung hilang. Pertamina akan memiliki kesempatan kembali meraih laba jumbo apabila harga BBM telat diturunkan pemerintah.

Di sisi lain, Indonesia berpotensi kehilangan pendapatan dari bagi hasil di sektor migas. Termasuk dari pajak-pajak di sektor tersebut. Dahlan berpendapat, penurunan pendapatan pemerintah tersebut ditaksir mencapai Rp115,1 triliun. Nilai tersebut merujuk realisasi PNBP sector migas pada tahun lalu.

“Di Indonesia, biaya produksi minyak mentah itu di sekitar [asumsi] US$40 per barel, kalau harga jualnya US$30 per barel, Anda pun bisa membuat corporate decision: tutup saja,” sebutnya.

Sementara itu Goldman Sachs Group Inc. memperingatkan harga minyak bisa turun ke level US$20 per barel seiring dengan perang harga yang terjadi antara Arab Saudi dan Rusia. Harga tersebut merupakan posisi ongkos produksi untuk beberapa negara produsen minyak.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga BBM Harga Minyak
Editor : Anggara Pernando
0 Komentar

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top