Tekan CAD, Istana Minta Surplus Neraca Dagang Ditingkatkan

Surplus dari transaksi ekspor-impor tersebut masih dapat ditingkatkan untuk menekan defisit transaksi berjalan lebih jauh dengan pengembangan industri bahan subsitusi seperti bio diesel, biofuel, petrokimia, oil refinery, bahan baku untuk industri otomotif, telekomunikasi, makanan dan minunan.
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 10 Februari 2020  |  19:54 WIB
Tekan CAD, Istana Minta Surplus Neraca Dagang Ditingkatkan
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Arif Budimanta mengklaim penyusutan defisit neraca berjalan (current account deficit/CAD) sepanjang 2019 dipicu oleh perbaikan posisi neraca perdagangan, khususnya non-migas.

Dia menilai surplus dari transaksi ekspor-impor tersebut masih dapat ditingkatkan untuk menekan CAD lebih jauh.

“Impor ditekan dengan pengembangan industri bahan subsitusi seperti bio diesel, biofuel, petrokimia, oil refinery, bahan baku untuk industri otomotif, telekomunikasi, makanan dan minunan, dan lain-lain,” katanya saat dikonfirmasi, Senin (10/2/2020).

Dia mencatat pada Desember 2019, ekspor dari Indonesia naik 1,28 persen. Impor pada periode yang sama turun 5,62 persen. Hal ini berimbas pada defisit neraca perdagangan yang berkurang sebesar US$5,5 miliar dibandingkan des 2018dari sebelumnya defisit menjadi surplus.

Arif mengungkapkan Presiden Joko Widodo juga menaruh perhatian khusus pada peningkatan ekspor. Pada tahun lalu, secara volume, pengapalan dari dalam negeri ke negara lain naik 9,82 persen secara tahunan karena batu bara dan crude palm oil (CPO).

Kendati demikian secara nilai harga komoditas terkontraksi cukup dalam, di mana batu bara turun 27 persen dan CPO 6 persen. “Hal ini yang membuat nilai ekspor [komoditas] turun, karena aspek cyclical,” katanya.

Sementara itu, impor terkendali dengan baik, khususnya terkait dengan sektor migas. Hal ini disebabkan oleh dua hal, yakni impor dilakukan sesuai kebutuhan dan pengendalian kebocoran penggunaan solar.

“Impor migas kita berkontribusi 12-13 persen dalam struktur impor nasional,” katanya.

Adapun Bank Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan sebesar US$30,4 miliar atau setara dengan 2,72 persen dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Realisasi tersebut turun tipis jika dibandingkan dengan capain 2018, yaitu US$31,1 miliar atau 2,94 persen dari total PDB.

BI melanjutkan neraca perdagangan barang surplus pada tahun lalu. Hal ini dipengaruhi oleh sektor nonmigas yang meningkat serta menurunnya defisit neraca perdagangan migas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
impor, defisit transaksi berjalan

Editor : Hadijah Alaydrus
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top