Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Gas Industri, APBI: Perluasan Perpres No.40/2016 Strategis

Bertambahnya pemain karet di Asia Tenggara menjadi ancaman bagi industri karet nasional.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 06 Februari 2020  |  20:23 WIB
Jaringan pipa gas - Ilustrasi.
Jaringan pipa gas - Ilustrasi.

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI) mengapresiasi langkah Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk memperluas sektor penerima manfaat Peraturan Presiden (Perpres) No.40/2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi.

Regulasi itu menetapkan harga gas pada sejumlah sektor industri pada  level US$6 per million british thermal unit (MMBtu). Salah satu subsektor manufaktur yang mendapatkan harga gas khusus itu adalah sarung tangan karet.

Ketua APBI Azis Pane mengatakan langkah tersebut penting untuk mendorong hilirisasi di sektor olahan karet. Selain itu, lanjutnya, kontribusi sarung tangan karet dalam portofolio ekspor artikel karet sangat mini.

"[Masuknya artikel karet dalam Perpres No. 40/2016] langkah yang strategis guna meningkatkan penghidupan petani karet. Kalau ini dimuat, petani karet tidak akan lagi tebang pohonnya," jelasnya kepada Bisnis, Rabu (5/2/2020). 

 Azis menambahkan bertambahnya pemain karet di Asia Tenggara menjadi ancaman bagi industri karet nasional. Apalagi, lokasi geografis Indonesia yang berada cukup jauh dari negara tujuan ekspor membuat daya pelaku industri karet  dan ban lokal kurang kompetitif.

Lokasi strategis, jelasnya, dimiliki oleh produsen ban dari negara kompetitor seperti Vietnam sebab berada dalam satu daratan dengan China.

"Karet itu ekspornya US$5,6 miliar, tapi angka itu akan berkurang terus karena Laos dan Vietnam sudah mengekspor karet juga. Posisi kita jauh di selatan, [akhirnya] sahabat-sahabat di benua Asia ambil yang paling dekat, pakai transportasi darat. Kita kan pakai [transportasi] laut," katanya.

Oleh karena itu, lanjutnya, langkah hilirisasi menjadi langkah yang sangat baik. Menurut dia, tarif gas berkontribusi 5 - 6 persen dari total biaya produksi rata-rata olahan karet. 

Kendati begitu, dia meyakini tarif gas yang lebih murah akan menjaga daya saing produk olahan karet nasional.

 "Tapi, [penurunan tarif gas] sangat signifikan. Meningkatkan daya saing pasti," ujarnya.  

 

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

karet Harga Gas
Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top